|
Oleh Sari Fitria
Dinding-dinding goa itu membisu, menyisakan lumut-lumut hijau yang lembab dan licin. Di beberapa bagian dindingnya, tetesan air merayap di sela-sela dinding goa yang terbuat dari batu yang telah berumur panjang. Aroma mistis pun terpancar dari goa yang bertingkat tiga ini. Hanya sedikit saja cahaya matahari yang mampu masuk menembus goa hingga alat bantu penerangan pun harus dibawa jika ingin menyusurinya.
Namun, tak semua bagian dari goa ini bisa disusuri dan dinikmati keeksotisannya. Alam dan zaman telah menjadikan beberapa ruang di dalam goa ini menjadi tak terjangkau. Hanya beberapa ruangan di tingkat satu dan tingkat tiga saja yang bisa disaksikan keelokannya. Sementara itu, batu-batu goa yang merapat telah menutup jalan menuju ruang-ruang lain di goa yang bertempat di Gunung Bungsu, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar ini.
Tak hanya dapat menyaksikan langsung bukti sejarah yang masih tersisa, goa ini pun menawarkan mitos dengan cerita yang menjadi replika kemarahan seorang Ibu. Cerita tentang asal usul goa ini mengalir secara turun temurun oleh rakyat setempat. Nico, salah seorang penduduk setempat adalah salah satu yang sangat percaya atas cerita yang menjadi penyebab adanya goa ini.
Goa dengan tiga tingkat ini, menurut Nico, dulunya adalah sebuah Rumah Gadang yang dihuni oleh seorang wanita bernama Inyiak Talingo Laweh. Dinamakan Inyiak Talingo Laweh karena wanita ini memiliki telinga yang sangat lebar. Anak dari Inyiak Talingo Laweh merasa malu memilki Ibu yang memiliki telinga sangat lebar. Maka, di hari pernikahannya, sang anak mengurung Inyiak Talingo Laweh di dalam kamar untuk menghindari rasa malu. Hal inilah yang memancing kemarahan sang Ibu hingga kutukannya pun keluar. Alhasil, jadilah Rumah Gadang, beserta segala makhluk dan benda yang ada di dalamnya menjelma menjadi batu dalam seketika.
Tak hanya cerita belaka, sisa-sisa makhluk dan benda yang berubah menjadi batu pun dapat disaksikan di dalam goa ini. Tak lama setelah memasuki goa yang berada di tingkat satu, sebuah batu yang berbentuk kucing dengan ekor yang tengah melingkar akan bisa dilihat. Agak ke dalam sedikit, sebuah batu yang menyerupai kincir air pun akan tampak. Sementara itu, di tingkat tiga goa ini, terdapat sebuah celah agar bisa masuk ke dalam goa. Sebuah batu yang terlihat seperti kasur bisa disaksikan di dalamnya. Menurut Niko, jika bisa masuk ke tingkat dua goa ini, berbagai makanan yang telah tertata di atas sebuah tikar layaknya ketika ada helatan bisa disaksikan di sana. “Sayangnya, tak ada celah untuk bisa memasuki ruang itu.” ujar Niko.
Nico dan penduduk setempat juga menyesalkan keadaan goa yang tak lagi terurus. Keadaan beberapa batu yang berbentuk makhluk hidup dan benda ini tak lagi sempurna. Beberapa bagian dinding goa pun telah dicoret-coret dengan spidol. Ikut campur dari tangan pemerintahlah yang mereka harapkan demi kelestarian sisa sejarah masyarakat Minang itu.
|