Home arrow Sastra & Budaya arrow Resensi arrow Merubah Karakter Bangsa dengan Sastra
Merubah Karakter Bangsa dengan Sastra
 Judul                : Menyemai Karakter Bangsa
Pengarang        : Yudi Latif
Penerbit            : PT. Kompas Media Nusantara  
Cetakan            : I, November 2009
Tebal                 : xxiv, 182 Halaman
Harga                : Rp38.000,-    


    Tak dapat dipungkiri, bangsa ini berada pada taraf yang sangat akut di kategori idealisme. Lihat saja, media massa maupun elektronik mengabarkan kasus korupsi yang makin lama makin menjamur. Prihatinnya, korupsi-korupsi itu justru dilakukan oleh mereka yang mengecap pendidikan tinggi, memiliki karakter kebangsaan, serta orang-orang yang dipilih mewakili rakyat Indonesia.
 
Realita di atas menunjukkan kalau karakter bangsa ini memang belum mencapai standar. Orang-orang seakan beramai-ramai mengkhianati negeri sendiri. Yudi latif mencoba memaparkan dan mengupas sebab-musabab terjadinya kasus-kasus demikian. Dalam buku Menyemai Karakter Bangsa, Yudi menghantarkan pembaca untuk turut berpikir tentang kondisi bangsa Indonesia saat ini. “Tujuh dosa sosial” seperti yang diungkapkan Mohanda K.Gandhi -politik tanpa prinsip, kekayaan tanpa kerja keras, perniagaan tanpa moralitas, kesenangan tanpa nurani, pendidikan tanpa karakter, sains tanpa humanitas, dan kepribadian tanpa pengorbanan-sangat berpotensi di tanah air. Dan inilah yang menjadi penyebab lumpuh bahkan matinya karakter bangsa.
 
Kelumpuhan karakter bangsa sebenarnya dapat tercermin dari bahasa publik yang ada di Indonesia. Di halaman depan surat kabar saja, bahasa yang biasa digunakan adalah bahasa politik seperti siapa yang menang atau bahasa ekonomi seperti dimana untungnya. Belum lagi diksi-diksi seperti separatisme, teror, penyalahgunaan wewenang, ganti rugi, narapidana, pemilu langsung atau keterwakilan merebak. Di balik diksi-diksi itulah bersembunyi kepentingan politik dan status quo.
 
Yudi Latif, mengutip dari Kidder seorang pengarang dari Institute for global Ethics mengatakan kalau kita hendak maju secara budaya dan memiliki karakter bangsa, patutnya ada satu bahasa lagi yaitu dengan mempertanyakan apa yang benar. Bahasa ini unik, apalagi melalui pendidikan karakter maka ia  akan nyaman dibicarakan untuk masa depan.
Bahasa, keberaksaraan dan kesastraan memiliki pengaruh yang luar biasa besar pada berbagai bidang kehidupan termasuk dalam pembentukan karakter anak-anak negeri. Semua gerakan kebangkitan bermula dari tanda. Perjuangan kebangkitan selalu dimulai dari kerja wacana. Tanpa kata, perjuangan kehilangan arah, sehingga tanda pengenal diri yang memberi kesadaran eksistensial pertama yang diciptakan adalah nama.
 
Tak ada bangsa yang dapat maju tanpa memuliakan keberaksaraan dan kesastraan. Tradisi menulis merupakan sarana ketepatan dan kekuatan. Keberaksaraan merupakan ukuran keberadaban, ini ditandai dengan penemuan alphabet oleh orang Yunani, merupakan capaian tinggi dalam evolusi budaya. Keberaksaraan merupakan organ kemajuan sosial. Ini karena secara umum naiknya tingkat literasi masyarakat mengarah pada kemunculan institusi sosial yang rasional dan demokratis. Keberaksaraan sebagai instrumen kebudayaan dan perkembangan saintifik, tulisan dan literasi sebagian besar bertanggung jawab bagi kemunculan modus pemikiran modern yang khas seperti filsafat, sains dan keadilan. Keberaksaraan sebagai instrumen dari perkembangan kognitif.
 
    Bahasa, keaksaraan dan kesastraan memiliki peran yang begitu penting. Danarto, seorang sastrawan mengatakan, “Sastra telah mendirikan bangsa Indonesia dalam perjuangannya. Sehingga sungguh pantas buku ini dijadikan referensi untuk pengambilan keputusan di  negeri ini bagi siapa pun”. Selain itu buku ini juga bisa menjadi lecutan bagi orang-orang di jalur sastra untuk berpikir lebih banyak. Benarkah sastra begitu pentingnya dalam karakter bangsa?  
 
Resensiator: Riri Haryati
Mahasiswa Pendidikan Geografi UNP BP 2007

 
< Prev   Next >

Berita Terkini