| Kampus Siaga Bencana |
|
Oleh Nofrion Sikumbang
Belum lama hilang dari ingatan trauma akibat gempa besar 30 september 2009 lalu, kini heboh pula akibat tersebarnya informasi tentang peringatan akan adanya ancaman gempa bumi dan tsunami yang lebih besar, yang akan melanda Pulau Sumatera dengan Kota Padang sebagai garis bidiknya. Tak pelak, ini menimbulkan kecemasan bagi warga Kota Padang, terutama mereka yang berada di zona merah yang jumlahnya mencapai 380.402 jiwa (data LSM KOGAMI Sumatera Barat). Termasuk di dalamnya UNP dengan jumlah mahasiswa 29.359 (Ganto, 2009) ditambah karyawan dan dosen sekitar seribu orang . Peringatan ini dikirimkan ke jurnal Nature Geoscience oleh tim seismologis yang diketuai oleh pakar seismologis yang kesohor dengan prediksi gempa Sumatera yang cukup akurat pada tahun 2005, John McCloskey, Professor Environmental Sciences Research Institute di University of Ulster, Northern Ireland. Ancaman gempa yang diperkirakan mencapai angka 8,5 SR. Hal ini disebabkan oleh akumulasi energi sejak gempa 8,7 SR pada tahun 1797 di bawah Siberut. Jadi, walaupun Padang dan Sumatera Barat sudah sering dilanda gempa termasuk gempa tanggal 30 september 2009, namun tidak mengurangi potensi gempa di megathrust strain-energy budget di Kepulauan Mentawai. Inipun relatif sama dengan prediksi Direktur Obervasi Bumi dari Nanyang Technological University Singapura, Kerry Sieh, seperti dimuat The Strait Times edisi Rabu 14 Oktober 2009. Satu pertanyaan yang perlu kita jawab bersama adalah apa yang sudah kita lakukan untuk mengantisipasi dampak gempa dan tsunami jika memang suatu saat terjadi? Bukan berarti kita mengamini seratus persen prediksi Seismolog, John McCloskey atau Kerry Sieh, tapi setidaknya kita mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi alam yang secara geologis memang berada dalam “ring of fire” dan terletak di pinggir parit sunda yang merupakan satu zona gempa paling mematikan di dunia, yang membentang sepanjang perairan Sumatera bagian barat. Khusus bagi warga UNP, belajar dari gempa 30 september tahun lalu, sepertinya UNP tidak bisa lagi menunda untuk menjadikan UNP sebagai kampus siaga bencana. Menurut Coppola dalam bukunya Introduction to International Disaster Management, proses menuju kampus siaga bencana itu meliputi: Preparadeness (kesiapsiagaan), Mitigation (mitigasi), Respons (respon), dan Recovery (Pemulihan). Menyangkut kesiapsiagaan dan mitigasi serta respon tentu bisa diartikan sebagai bentuk pemahaman yang memadai terhadap kondisi alam dan pemahaman tentang upaya-upaya penyelamatan diri saat terjadi dan pasca bencana serta didukung dengan kesiapan sarana dan prasarana evakuasi. Apa yang sudah kita lakukan? Sudahkah semua warga UNP memiliki pengetahuan yang memadai tentang jenis-jenis bencana terutama gempa dan tsunami? Sudah pulakah warga UNP mengetahui cara-cara penyelamatan diri saat terjadi gempa dan tsunami? Sudah adalah SOP yang sudah tersosialisasi dengan baik tentang proses penyelamatan diri dini? dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita munculkan yang semuanya bermuara pada upaya “preventif” untuk meminimalisir korban akibat bencana. Beberapa upaya perlu kita lakukan, diantaranya meningkatan pengetahuan warga kampus tentang berbagai bencana yang berpotensi melanda UNP terutama gempa dan tsunami. Tidak sebatas pengetahuan saja, tapi warga kampus harus dibekali dengan keterampilan menyelamatkan diri tatkala terjadi bencana. Ini bisa dilakukan melalui sosialisasi secara berkesinambungan dan berkelanjutan. UNP juga bisa menggandeng pihak luar seperti Satuan Koordinasi Pelaksana (SATKORLAK), BNPB ataupun KOGAMI dalam pelaksanaannya. Karena di UNP juga ada jurusan geografi, maka cukup memberdayakan potensi internal ini. Setidaknya ada kegiatan sosialisasi internal kampus minimal sekali dalam tiga bulan dan setiap semester diadakan simulasi gempa dan tsunami tingkat fakultas/universitas. Upaya sosialisasi juga bisa dilakukan dengan pemasangan poster atau baliho yang berisi informasi seputar upaya-upaya penyelamatan diri jika terjadi bencana. Minimal di tiap jurusan atau fakultas ada baliho atau poster besar minimal di titik-titik strategis.UNP juga harus memiliki jalur evakuasi kampus yang jelas. Sekurang-kurangnya ada peta sederhana yang bisa menjadi panduan warga kampus saat menyelamatkan diri. Peta atau denah itu bisa berupa selebaran yang dibagikan kepada semua mahasiswa atau ditempel di tiap jurusan dan jalan-jalan yang dijadikan jalur penyelamatan diri. UNP harus segera menentukan mana diantara gedung-gedung UNP yang bisa dijadikan sebagai “shelter” bagi warga kampus terutama mereka yang tidak bisa berlari, cedera atau kehabisan waktu untuk menyelamatkan diri. Tentunya UNP tidak bisa sendiri, harus menggandeng pihak luar yang berkompeten seperti Tim Teknik ITB atau NGO Internasional yang bisa merekomendasikan gedung-gedung yang layak sebagai “shelter”. Selain itu UNP juga harus memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang bisa dijadikan acuan saat dibutuhkan. Melalui SOP itulah dijelaskan siapa dan apa tugas dan kewajibannya saat gempa. Siapa yang boleh membuka gerbang, siapa yang bertugas mengatur dan mengarahkan evakuasi. Termasuk yang perlu difikirkan adalah apakah warga kampus diperbolehkan membawa mobil untuk menyelamatkan diri. Untuk menetralisir isu setelah gempa dan mengurangi kecemasan warga kampus tatkala gempa terjadi rasanya di UNP layak diletakkan satu sirene peringatan dini tsunami. Sehingga warga UNP tidak selalu berlarian menyelamatkan diri setiap terjadi gempa. Jika gempa terjadi dan sirine tidak berbunyi maka warga kampus tetap bisa melaksanakan kegiatan akademik seperti biasa. Disamping itu UNP juga perlu membuat sistem perparkiran siaga bencana yang harus ditaati oleh semua warga kampus. Lebih lanjut, hal ini jauh dari maksud mempertinggi tingkat kecemasan bagi warga kampus, tapi muaranya adalah upaya untuk membangun kearifan lokal dan meminimalisir korban jika seandainya kemungkinan terburuk itu terjadi. Dengan adanya kesadaran dan kebersamaan akan membuat UNP sebagai kampus siaga bencana Penulis Adalah Dosen Jurusan Geografi, FIS, UNP |
| < Prev | Next > |
|---|
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
|