| Harga 'Kepalan' dan 'Kepala' |
|
Oleh: Dr. Ahmad Kosasih, M.A
Tinju dapat diartikan sebagai simbol kekuatan. Di kampung-kampung dulu ada ungkapan, ‘orang yang besar buku tangannya (tinjunya)’. Ungkapan ini menyiratkan makna kekuatan dan keberanian. Tinju dapat pula diartikan sebagai pembela kehormatan dan harga diri. Saat harga diri seseorang diinjak-injak orang lain, maka tinju bisa ’berbicara’. Namun tak jarang pula tinju dapat menimbulkan kesan negatif, ketika tinju tidak disalurkan dengan cara yang benar. Misalnya untuk sekedar sok jagoan lazimnya kita saksikan akhir-akhir ini pada tawuran pelajar, bahkan juga dipertontonkan di arena kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada publik. Namun ada juga yang menjadikan tinju sebagai sumber rezeki oleh berbagai pihak, serta dikomersilkan. Harganya terhitung sangat mahal. Melebihi harga kepala yang difungsikan untuk berpikir. Menyaksikannya menghilangkan rasa belas kasihan dan hampir tak memikirkan dampak paling buruk pada fisik seorang manusia. Ketika sampai terjadi cedera pada otak sang petinju, maka penyembuhannya akan sulit, disamping memakan biaya yang tidak sedikit. Manusia Adalah Makhluk Yang Mulia Dari sekian banyak makhluk yang ada di planet ini, manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan mulia. Allah SWT menjulukinya ahsani taqwin (ciptaan yang terbaik). Kesempurnaan penciptaan manusia tidak hanya dari segi fisik yang begitu indah dan seimbang, tapi juga kerena manusia dilengkapi dengan akal pikiran dan hati nurani, di samping nafsu. Kata ‘aqlun’ di dalam Bahasa Arab mengandung arti ‘mengikat’. Karena adanya akal, maka tidakan-tindakan dapat diikat dan dikendalikan dari perbuatan-perbuatan menyimpang yang menimbulkan mudharat. Dengan akal juga timbul rasa malu, yakni malu melakukan perbuatan yang menurunkan harkat dan martabat kemanusiaan. Akal membuat manusia dapat berpikir. Sedangkan otak adalah sebagai instrumennya di kepala. Karena itu memelihara kepala berarti memelihara nikmat Tuhan yang paling berharga dan mulia. Sebaliknya, menyiakan kepala dengan melakukan hal-hal yang dapat merusaknya berarti melecehkan nikmat Tuhan yang paling berharga dan menjatuhkan diri ke dalam jurang kebinasaan. Sebagaimana firman Allah SWT, “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam jurang kebinasaan.(Q.S 2:195) Antara Tinju Dan Budaya Kekerasan Tanpa bermaksud mengatakan bahwa olahraga tinju identik dengan kekerasan. Tulisan ini bertujuan memberikan penilaian tentang baik buruknya olahraga ini. Tujuan dari olahraga adalah untuk latihan pisik mencapai kesehatan dan kebugaran tubuh, melatih otot-otot agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya, serta melancarkan peredaran darah. Tidak beda tentunya dengan olahraga tinju. Dengan pisik yang kuat dan segar akan diperoleh pikiran yang segar pula. Seperti ungkapan yunani kuno ‘men sana in corpora sano’ yang berarti ‘di dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang sehat’. Jika ditilik lebih lanjut, dalam olahraga tinju terdapat tarik-menarik antara kemanusiaan dan kebutuhan, antara materi (uang) dan budi luhur insani. Namun ketika uang dianggap menjadi priorotas maka nilai luhur kemanusiaan cenderung terkalahkan. Disini perlu pula dikaji mudharatnya. Seberapa besar keuntungan bagi si pelakunya atau bagi promotornya dan seberapa besar mudharat bagi pelakunya. Islam memang tidak mengatur semua urusan secara spesifik dan rinci. Islam hanya memberikan rambu-rambu dan menyuruh manusia menggunakan akal dan hati nuraninya demi keselamatan umat manusia dan kemanusiaan pada umumnya. Sesuatu yang mudharatnya jauh lebih besar daripada manfaatnya harus dihindari, meskipun terlihat menguntungkan bagi segelintir orang. Penyair Taufik Ismail pada dekade 80-an menulis dalam harian Kompas sebuah artikel yang berjudul ‘surat buat ananda Dini dan Anita’. Dalam artikel tersebut sang penyair kondang melukiskan sebuah dialog imajiner antara tengkorak seseorang dan tengkorak mantan petinju di alam kubur sana. Mayat petinju itu mengatakan penyesalan atas sikap bangsanya yang mengagungkan kekerasan. Tersirat makna bahwa bangsa ini lebih menghormati ‘kepalan’ dibandingkan ‘kepala’. Demikian tingginya nilai dan harga sebuah tinju bagi praktisi dan penggemar tinju. Sehingga ketika seorang petinju menang dalam pertarungannya, bukan saja disanjung serta dielukan oleh penggemarnya, bahkan ia seakan berhak menyandang gelar pahlawan bangsa. Sementara pihak yang kalah, tidak hanya menderita secara pisik dengan berlumuran darah, dan penonton pun tak mempedulikannya. Tak seorangpun mengucapkan belasungkawa dan rasa iba pada dirinya. Inilah kenyataan yang terjadi ketika harga sebuah kepalan lebih tinggi daripada harga sebuah kepala. Agaknya olahraga ini perlu dikaji ulang dari segi manfaat dan mudaratnya. Ternyata tindak kekerasan yag sering kita saksikan pada masyarakat akhir-akhir ini tidaklah datang dengan tiba-tiba tanpa penyebab yang mendahuluinya. Proses tersebut mungkin dalam bentuk penilaian-penilaian yang kurang tepat tentang baik, buruk, manfaat serta mudharat. Olahraga yang satu ini kiranya perlu diimbangi dengan olah rasa dan olah pikir demi menjaga martabat makhluk Tuhan yang amat mulia itu. kita semua setuju olahraga harus dimasyarakatkan dan masyarakat harus diolahragakan. Tapi belum tentu semua orang setuju tinju harus dimasyarakatkan, apalagi jika masyarakat ditinjukan. Wallahu a’lam bisshawab. Penulis adalah dosen agama MKU |
| < Prev | Next > |
|---|
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
|