|
Bukan hanya Raden Ajeng Kartini yang membuka cahaya terang bagi wanita Indonesia. Karena kata emansipasi wanita begitu melekat pada namanya. Sesosok ’singa’ pernah lahir di ranah minang pada tahun 1880. Bahkan ia berkata ” kemerdekaan hakiki harus direbut sekalipun anakku kelak tanpa ayah dan ibu, lantaran darah kedua orang tuanya tercecer sebagai syahid di tanah kelahiran tercinta”. Siti Mangggopoh adalah inspirator wanita Indonesia, meski memoirnya tak banyak disebut orang.
Wanita ini tidak ditakdirkan untuk lemah. Keaadaanlah yang kemudian membuatnya tangguh. Jika di jamannya wanita tak layak untuk berperang, Siti malah menjadi komandan perang. Baginya perjuangan itu tak mengenal gender. Semangatnya bergelora bak api dalam perjuangan melawan penjajahan. Ia, meskipun hanya seorang wanita, namun membuat Belanda menjadi kewalahan dalam penyerbuannya.
Perjuangannya terbilang unik. Taktik perjuangan yang dilakukan Siti adalah dengan berpura-pura mau bekerjasama dengan para pemimpin Belanda. Hanya terhitung dua hari, ia nekat masuk seorang diri ke dalam benteng dan langsung membunuh 52 orang perwira Belanda dengan senjata tajam ruduih. Buntutnya, benteng Belanda di Manggopoh berhasil ditaklukkan. Perebutan benteng yang dilakukan Siti menyulut Perang Manggopoh pada tahun 1908. Meskipun begitu, ia tak melupakan fitrahnya sebagai wanita. Ia pun tak melupakan nilai-nilai adat dalam hidupnya. Sebagai perempuan Minang, ia dikenal sebagai Bundo kanduang. Sebuah panggilan kehormatan adat bagi wanita minangkabau. Sehariannya ia dikenal dipanggil Mande Siti. Dalam perjuangannya ia pernah mengalami konflik batin antara menyusui buah hatinya dan melakukan penyerangan ke Benteng Belanda. Ia memilih meneruskan perjuangan, setelah itu baru menyusui anaknya. Bahkan dalam perjuangannya melarikan diri ke hutan dengan pasukannya, ia menyertakan buah hatinya tersebut. Begitu juga saat ia dipenjara hampir empat tahun lamanya. Siti juga merupakan pesilat wanita yang perkasa. Ia telah memasuki dunia persilatan sejak ia menginjak usia remaja. Ketangguhannya terbukti dengan keberaniannya menyerbu Benteng Belanda akibat merasa harga diri kaumnya diinjak-injak dengan Kebijakan Belasting. Kebijakan Belasting yaitu pemungutan pajak tanah oleh belanda pada rakyat. Siti menganggap tanah di Minangkabau adalah tanah kaum yang dipunyai secara turun temurun. Belanda yang baru memasuki daerah Minang dirasa tidak berhak memungut tanah yang notabenenya hak rakyat Minang. Sosiolog dari Universitas Andalas Padang, Dr Damsar, mengatakan bahwa Siti Manggopoh merupakan gong perjuangan kebangkitan kaum perempuan dalam kancah politik. "Siti Manggopoh berjasa dalam menegakkan marwah rakyat tertindas. Pantas gelar pahlawan diberikan kepada dia”. Namun sayangnya, meskipun telah diusulkan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Sumatra Barat dan DPRD setempat, agar Siti Manggopoh, dinobatkan sebagai pahlawan nasional, namun masih belum ada kepastian untuk gelar tersebut. Meskipun tanpa gelar pahlawan nasional, memoar seorang Mande Siti hendaknya menjadi cerminan wanita Minangkabau. Keberanian, dan kehormatannya layak dibanggakan dan disandingkan dengan nama R.A Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita. Arda Sani (dari berbagai sumber)
|