|
Sampah yang berserakan menjadi pemandangan biasa bagi hampir semua orang di sekitar kampus Universitas Negeri Padang (UNP). Tak terkecuali bagi Novendri (20) yang bekerja di salah satu usaha fotokopi di dekat kampus Fakultas Bahasa Sastra dan Seni (FBSS).
Beberapa titik, rentan menjadi lahan pembuangan sampah. Seperti tumpukan sampah di depan labor jurusan Bahasa Inggris, maupun sampah berbagai jenis limbah rumah tangga yang berlokasi di ujung lokal darurat (LD), kampus FBSS. Sementara itu, di dekatnya berdiri palang “Dilarang Buang Sampah di Lokasi Ini”. Ketika ditemui, Novendri mengeluhkan keberadaan sampah yang kerap menimbulkan bau tak sedap. Ia mengaku acap melihat pengendara motor membuang kantong sampah ke lokasi tersebut. Selama hampir dua tahun bekerja, lanjutnya, ia belum pernah melihat truk pengangkut sampah atau petugas kebersihan lainnya yang mengangkut sampah-sampah itu. “Kadang-kadang ada warga sekitar yang sukarela membakarnya,” komentarnya sembari menatap seseorang melempar kotak minuman di jalan, Senin (15/2). Tak jauh beda dengan lokasi di taman kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) di depan gedung perpustakaan pusat UNP. Sampah gelas/botol minuman serta bungkus makanan terlihat bertebaran. Beberapa mahasiswa Pendidikan Kimia yang enggan disebutkan namanya mengaku risih dengan kondisi ini. Apalagi terdapat bungkusan dengan nasi berceceran diselipkan di salah satu celah cabang pohon. “Seharusnya jumlah tong sampah disesuaikan dengan luas areal kampus,” ujar salah seorang di antaranya, Selasa (9/2). Kondisi serupa juga terlihat di sepanjang jalan antara labor Fakultas Teknik (FT) dengan lokal Mata Kuliah Umum (MKU). Bahkan terdapat beberapa batang kayu yang mulai lapuk. Ditambah lagi sampah sisa-sisa bangunan seperti bata dan potongan atap seng. Seorang petugas kebersihan mengatakan, ia bersama seorang rekannya bertanggung jawab mengambil sampah dari tong yang tersebar di seluruh kampus. “Kami berdua mengangkutnya ke lokasi pembuangan akhir, nanti akan ada truk yang menjemput sampah-sampah ini,” tuturnya (9/2). Namun, tambahnya, sampah-sampah yang sudah tertimbun tanah dan bercampur batu-batu, tentu sulit untuk diangkut. Menanggapi permasalahan ini, dosen mata kuliah Kimia Lingkungan, Drs. H. Nazulis Z, M.Si menerangkan, tumpukan sampah organik (limbah rumah tangga_red) dapat menjadi sumber penyakit. Bau busuk serta berbagai jenis hewan yang hidup di tumpukan sampah akan membahayakan manusia. Selain itu, jelasnya, gas metana yang dihasilkan sampah organik berpotensi lebih buruk dalam peningkatan pemanasan global. Lebih lanjut ia mengatakan, sampah organik sebaiknya diproses menjadi pupuk. Sedangkan untuk sampah anorganik (botol, plastik, seng_red) dilakukan pemilahan kemudian didaur ulang. “Membakar bukan cara yang tepat. Gas karbondioksida hasil pembakaran justru memicu peningkatan suhu bumi,” tutupnya saat diwawancarai via telepon, Senin (22/2). Ika
|