Laporan
Laporan Khusus
Menggiring Dosen Teladan | Menggiring Dosen Teladan |
|
Bicara ideal, bicara bukti. Soal dosen teladan, mahasiswa angkat suara. Namun hal ini belum diikuti apresiasi dari universitas. Sepuluh menit kurangnya dari pukul 13.20 WIB. Dalam jadwal akademik perkuliahan ke 7 dan ke 8 setiap harinya dimulai pada waktu ini. Kelas LBB 8 sudah ramai, sekitar 15 mahasiswa Sastra Inggris BP 2006 menunggu dosen yang akan mengajar mata kuliah Seminar on Literature hari itu. Tak lama berselang, dosen yang ditunggu-tunggu pun datang. Namun ternyata sang dosen mengatakan datang untuk memberitahukan bahwa ia tak dapat melakukan proses belajar mengajar hari ini. Hari ini ia harus mengikuti pertemuan terkait sertifikasi dosen di Ruang Serba Guna FT. Suatu hal istimewa bagi kumpulan mahasiswa ini mengetahui dosen yang bersangkutan tak bisa mengajar hari ini. Betapa tidak, bagi dosen yang satu ini, absen mengajar sama sekali bukan hal yang biasa. Semester Juli-Desember lalu saja, perkuliahan mereka terhitung 17 kali pertemuan. “ Absen mengajar merupakan hal yang tabu bagi beliau,” tutur salah seorang dari mereka, Kamis (25/2). Dosen itu bernama Dr. Kurnia Ningsih, M.A. Sesuai data yang didapatkan Ganto melalui responden dari jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, nama ini muncul sebagai dosen yang dianggap mahasiswa teladan dan ideal. Poin penilaian yang ditanyakan kepada responden ada delapan, dengan garis besar, kinerja dosen di dalam lokal baik dalam menyiapkan bahan ajar, kesungguhan dalam menyampaikan materi, kreativitasnya dalam menarik perhatian mahasiswa dalam kuliah, serta ketersediaannya untuk menyalurkan keaktifan mahasiswa dalam memperluas pengetahuan baik didalam dan diluar kelas. Ini sejalan dengan ketetapan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) yang di jelaskan dalam buku Pedoman Beban Kerja Dosen dan Evaluasi Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Dalam pedoman ini dipaparkan perihal tugas utama dosen dengan beban kerja paling sedikit 12-16 SKS paling banyak tiap semesternya, sesuai dengan kualifikasi akademik. Sedangkan profesor/guru besar memiliki tugas khusus menulis karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasan-gagasan untuk mencerahkan masyarakat. Untuk pelaksanaan tugas ini, diperlukan evaluasi yang dilaporkan secara periodik sebagai bentuk akuntabilitas kinerja dosen kepada para pemangku kepentingan. Sedangkan menurut dekan Fakultas Bahasa Sastra dan Seni, Prof. Dr. Rusdi Thaib, Ph.D., evaluasi ini berguna untuk mengatasi permasalahan-permasalahan menyangkut kinerja dosen. “Diharapkan dosen lain tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ungkapnya, Senin (1/3). Dari hasil evaluasi dosen di UNP yang kebanyakan dilakukan dengan menyebar angket kepada mahasiswa, dihasilkan dosen-dosen teladan dan ideal dari kaca mata mahasiswa. Di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, dari 25 butir pertanyaan yang disebar melalui angket kepada mahasiswa di akhir semester, terpilih Dra. Elya Ratna sebagai dosen terbaik saat itu (tahun 2006_red). Penilaiannya seputar kinerja dosen dalam hal kedisiplinan dalam mengajar. Menurut pengajar yang menolak disebut dosen teladan ini, terpilihnya ia menjadi dosen terbaik saat itu mungkin karena kedisipilinannya dalam mengajar dan selalu datang tepat waktu. Untuk setiap tugas yang diberikan, lanjutnya, harus selalu dikumpul tepat waktu serta dibahas, sehingga tak hanya berakhir sebagai nilai. Ini disampaikan kepada mahasiswa saat kontrak belajar awal semester. “Namun mahasiswa kan punya pilihannya sendiri,” ujar nya. Mengenai kompetensi dosen dalam menentukan kualitas pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi tak hanya dapat dinilai dari disiplin dan tepat waktu. Dari angket yang disebar Tim Litbang Ganto Februari lalu berdasarkan butir mutu proses belajar mengajar di perguruan tinggi, kesempatan mahasiswa bertanya di dalam maupun di luar secara objektif mendapat poin tertinggi. Dari lima persen sampel mahasiswa perfakultas, poin ini mencapai persentase pelaksanaan 88 persen. Sayangnya, tiga poin lain yang sangat penting, malah memperoleh persentase minim. Tiga poin tersebut menyangkut persiapan dosen dalam menyiapkan materi ajar, kesungguhan dosen dalam mengajar agar materi dapat dimengerti mahasiswa, serta dari usaha dosen membuat mahasiswa tertarik dan tidak bosan dalam mengikuti pelajaran. Masing-masing hanya memperoleh persentase 18, 16 dan 15 persen. Tak hanya cara mengajar, dari hasil angket ini juga didapat sejumlah nama dosen di masing-masing fakultas yang dinilai ideal oleh mahasiswa. Salah satunya muncul nama Dra. Zuliarni dari Fakultas Ilmu Pendidikan. Meski dosen yang satu ini masih menyandang gelar Strata1, namun ia dinilai mahasiswa memiliki persiapan serta perencanaan yang matang sebelum mengajar. Zuliarni mengatakan kalau sebelum mengajar dia selalu membuat tujuan pembelajaran yang jelas serta langkah bagaimana tujuan itu dapat tercapai dengan baik. “Tak jauh beda denghan dosen-dosen lainnya,” tutur Zuliarni. Namun, lanjutnya, ia memang sangat mempertimbangkan setiap tugas-tugasnya. Dia sengaja tidak mengambil tanggung jawab mata kuliah atau tugas-tugas lainnya terlalu banyak. “Saya takut tugas pokok sebagai dosen tidak terpenuhi,” tuturnya, Rabu (4/3). Selain itu, tambahnya, ia selalu berusaha melakukan pendekatan dengan mahasiswa. Bicara dosen ideal, Mantan Rektor UNP, Prof. Dr. H. A.Muri Yusuf, M.Pd angkat suara. Menurutnya, Dosen ideal itu adalah dosen yang kriterianya tercantum dalam peraturan pemerintah dan Dikti. Dosen harus memiliki empat kompetensi, kompetensi pedagogik, sosial, pribadi, dan profesional. “Jika salah satunya tak ada, berarti sang dosen belum bisa dikatakan ideal,” ungkap Muri, Jumat (5/3). Tak jauh berbeda dengan Muri, Pembantu Rektor I, Prof. Dr. Phil Yanuar Kiram mengatakan, dosen ideal adalah mereka yang selain melakukan kegiatan belajar mengajar, juga melakukan penelitian secara berkala. Untuk pemilihan dosen teladan di UNP menurutnya, telah ada tiap tahunnya. “Hanya saja kriteria pemilihan tidak begitu jelas dan tiap tahun selalu berubah-ubah,” ujarnya, Rabu (24/2). Mengenai apresiasi terhadap mereka (dosen teladan_red), jawab Phil, mereka hanya diikutkan ke pemilihan di tingkat nasional. Della/Uun Laporan: Ibes/Rahma/Salim/Sari dan Tim Litbang Ganto Evaluasi melalaui Reward dan PunishmentTak akan pernah ada kata berhenti untuk peningkatan kualitas pendidikan. Salah satunya dengan evaluasi secara berkala. Tahun ini DIKTI mempertegas proses evaluasi dosen yang dilaksanakan setiap semesternya.Seperti apakah evaluasi yang dimaksud? Simak wawancara reporter Ganto, Heri Faisal, dengan Kepala Pusat Badan Pengembangangan Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional, Dr. Nugaan Yulia Wardani Siregar, M.Psi berikut ini, Jum’at (26/2) di RSG FT: Komponen apa saja yang dievaluasi dalam peningkatan kualitas pendidikan? Semua perangkat penunjang pendidikan itu dievaluasi . Pendidikan tentu punya standar. Pemenuhan standar tersebut tidak didapat secara praktis, tetapi melalui proses dan tahapan yang panjang. Proses pendidikan inilah yang kita evaluasi hingga menghasilkan mutu yang sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. Ada banyak hal yang dinilai, semuanya sudah terangkum dalam penilaian BNSP, meliputi standar kelulusan, fasilitas dan sarana penunjang pendidikan, kualifikasi guru dan dosen. Bagaimana sistem evaluasi pendidikan tersebut? Banyak cara, diantaranya penguasaan kognitif, berupa pemberian tes, bisa tes tertulis dan tes lisan, lalu pemberian tugas secara berkala yang memungkinkan siswa untuk terus dipantai proses belajarnya. Seorang guru atau dosen yang ideal itu seperti apa menurut anda ? Ada sedikit perbedaan dalam proses pendekatan seorang guru terhadap siswa dan seorang dosen terhadap mahasiswanya. Memperlakukan murid sesuai kebutuhan. Seorang guru tidak bisa memperlakukan muridnya secara sama saja, karena masing-masing murid punya sifat berbeda, tetapi tidak mungkin juga seorang guru mampu memahami dan melakukan pendekatan yang berbeda terhadap 40 orang siswa misalnya. Itu kan butuh waktu, pendidikan tidak menuntut seperti itu tetapi bagaimana membawa ke 40 murid ini untuk bisa masuk dalam satu atau dua metode belajar yang disiapkan. Nah untuk dosen tentu mungkin lebih gampang, karena sistem independen di Perguruan tinggi tidak menuntut dosen untuk melakukan pendekatan emosional kepada setiap individu. Idealnya mereka ya bekerja sesuai tuntutan tadi, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pendidik. Kesemuanya itu tentu berpijak kepada undang-undang guru dan dosen. Semuanya sudah tercakup di sana. Nah, bagaimana sistem yang tepat untuk mengevaluasi kinerja guru dan dosen? Kuncinya ada pada metode pembelajaran yang tepat. Berikan reward dan punishment. Jika seorang dosen sudah bekerja dengan baik, maka harus ada reward untuk pekerjaannya. Terkadang kita tidak peduli dengan semua itu sehingga menimbulkan ketidakpedulian pula di kalangan guru dan dosen. Tidak ada motivasi bagi mereka untuk bekerja lebih. Maka reward penting di sini. Lalu beri hukuman bagi yang melakukan pelanggaran. Keduanya ini dijlankan tentunya sesuai dengan aturan yang ada. |
| < Prev | Next > |
|---|
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
|