| Menembus Batas Kreativitas |
|
Oleh Sari Fitri Udara dingin malam itu tak jadi penghalang bagi sekumpulan anak muda yang tetap beraksi dengan gerakan‘liar’ di pendopo FBSS UNP. Dipayungi langit kelam, dan diiringi musik yang sedikit asing di telinga, mereka semakin gencar menampilkan gerakan-gerakan dengan frekuensi yang semakin cepat. Saking asyiknya dan tentu menguras tenaga yang tidak sedikit, sebagian dari mereka bahkan bertelanjang dada sambil memainkan gerakan-gerakan tadi. Salah satu gerakan yang sering dimainkan yakni dengan pola menumpukan tubuh di atas kedua tangan hingga posisi kepala berada di bawah dan kaki di bagian atas. Sedangkan yang lain menekankan telapak tangannya di lantai dan mengangkat tubuh sambil berputar-putar.
Jika menyaksikan gerakan-gerakan itu, sepintas ngeri sekaligus takut. Jangan-jangan nanti tangan si penari patah, atau badan yang sedang diangkat jatuh dan berbenturan dengan lantai yang keras. Bisa fatal akibatnya. Erik, salah satu yang tergabung dalam Gues Rangmudo, menceritakan hampir setiap hari berlatih di sekitar kampus ini. Biasanya Erik dan kawan-kawan sudah hadir di sana sekitar pukul 14.30 hingga 20.00 WIB. “Tak ada paksaan bagi setiap anggota yang akan ikut atau tidak berlatih setiap harinya,” kata Erik, Rabu (9/12) lalu. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Padang ini, telah mendalami breakdance sejak 2006 lalu. Ia tertarik dengan tarian asal negeri barat ini dikarenakan keunikan tarian tersebut. “Selain menghibur, tarian ini juga sebagai bentuk kreasi berolahraga,” ungkapnya. Guest Rangmudo, komunitas yang memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk bisa berbreakdance. Tanpa persyaratan yang muluk-muluk. Sehingga anggota komunitas ini terdiri dari berbagai tingkatan. Seperti ada siswa sekolah menengah hingga mahasiswa di perguruan tinggi di kota Padang. “Prosedurnya, setiap anggota baru hanya membayar uang administrasi sebesar Rp 30.000,-,” tutur Erik. Mereka mempelajari breakdance dari senior yang lebih dulu berkecimpung dengan tarian ini. Selain itu biasanya belajar secara otodidak. “Meniru dari video-video yang didownload dari internet,” kata Erik. Untuk menjalankan kegiatan setiap hari, berupa latihan-latihan yang rutin dilaksanakan, biasanya setiap anggota ber-iuran sebesar Rp 5.000,-. Iuran itu digunakan untuk keperluan sewaktu latihan. Seperti membeli air mineral dan lainnya.
|
| < Prev | Next > |
|---|
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
|