Tukang Kopi

Oleh Diana Besni

Duduk terpaku, pandangannya jauh menerobos keluar jendela. Sesekali gorden berwarna biru kusam digoyangkan angin menghambat pandangan Sati. Berulang kali ia mengusap kepala dengan jari-jemarinya. Suara angin menggedor dinding rumah yang serasa mau roboh, saking reotnya. Tak jarang lagi Sati bertingkah seperti itu, setiap selesai  menidurkan Aisyah, anak semata wayangnya yang berusia tiga setengah tahun. Melamun. Bak rutinitas saja di tiap harinya.

Ia melenguh halus. Pundaknya terasa pegal, berat, tak sanggup lagi untuk memikul beban. Tak punya lagi tempat mengadu. Keluh-kesahnya hanya tertahan lewat cucuran air mata. Duduk termenung memegang kaleng susu, lamunan Sati semakin jauh. Berulang kali ia menggoyangkan kaleng susu itu, dibuka dan ditutup lagi. Lama ia memperhatikan bagian dalam kaleng, dasar kaleng  itu sudah tak tertutupi lagi oleh bubuk susu. Cukupkah ini untuk  sebotol  susu di pagi besok? batin Sati. Ia melangkah mendekati tempat si buah hati berbaring, lembut ia membelai kepala mungil itu. Hmm….

***
Perempuan yang tak sempat duduk di bangku sekolah ini dinikahi Tejo lima tahun lalu. Laki-laki yang sama-sama bekerja di pabrik penggorengan kerupuk dengannya. Dua tahun pernikahan, lahirlah Aisyah. Sejak itu pula Tejo beralih mata pencaharian, menjadi office boy di sebuah kantor pengadilan.
Profesi itu membuat Tejo  menjadi orang yang selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir di kantor pengadilan agama. Meski telah begitu keras bekerja, buah keringatnya masih belum begitu mencukupi kebutuhan keluarga. Sering, Sati harus berhutang kesana-kemari untuk menutupi kekurangan. Pinjam beras pada Bu Minah, meminta belas Bu Jali, gali lubang tutup lubanglah.
 

Sementara itu, Tejo terus berusaha membuat kopi sesempurna mungkin. Melakukan tugas-tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Supaya bos-bos itu senang. Dan sering ia  mesti ekstra sabar mendengarkan bos-bos itu marah karena kopi yang dibuatnya tak sesuai selera. Kemanisan, kepahitan, kebanyakan, kesedikitan. Memang rumit sekali selera mereka itu, pikir Tejo sesekali.
 

Perkara membuat kopi itu saja mampu menjadikan Tejo bulan-bulanan, seharian bisa saja dia dimaki tak karuan. Bahkan dalam keadaan banyak tamu sekalipun. Yah, aku kan cuma tukang buat kopi, kilah Tejo menenangkan diri. Ketabahan dan kegigihan bekerja demi keluarga membuatnya berani bertahan. Hatinya memang sudah banyak menolak sebenarnya,  setelah beberapa kali tak sengaja mendengarkan pembicaraan janggal di ruang bos-bos itu.
 

Subuh sekali Tejo berpamitan pada Sati berangkat menuju kantor. Kemeja lusuh abu-abu muda yang ia kenakan masuk rapi ke dalam celana hitam panjang. Terdengar samar-samar suara azan sepanjang perjalanan Tejo. Sesekali Tejo menaikan bahu dan melipat tangannya, sekedar menghalau rasa dingin di pagi hari. Dua SPBU telah ia lewati, satu mesjid lagi ia sampai di kantornya. Di mesjid inilah Tejo sholat subuh menunaikan kewajiban sebagai umat muslim. Saat matahari mulai menampakkan cahayanya, Tejo pun mulai memulai rutinitas sehari-harinya sebagai office boy.
 
Tak biasa ia melihat Pak Ikmal, bosnya telah berada di kantor, datang lebih pagi darinya. Beberapa kali Tejo melirik bosnya itu di saat menunggu air panas, Tejo melihat Pak Ikmal masuk keluar dapur. Itu tak begitu ia hiraukan, terasa aneh memang, tapi sudahlah, tepisnya. Ia terus menyusun beberapa gelas, memasukan sendok demi sendok kopi dan gula ke dalam gelas. Tak lama kemudian, Tejo berjalan membawa lima sampai sepuluh gelas kopi dan teh. Masuk, keluar dari satu ruangan keruangan lainya. Lega bagi Tejo, saat melihat senyum seikhlasnya dari bos-bos saat mencicipi segelas kopi atau teh buatannya.
 
Tiga atau empat jam sekali Tejo mondar-mandir lagi, mendatangi ruangan demi ruangan. Kalau-kalau bos-bos itu minta tambahan kopi atau teh. Dia tak punya banyak waktu untuk melepas lelah, saat jam makan siang datang banyak bos-bos yang berulah kadang minta dibelikan makanan inilah dan itulah. Dan langkah kakinya pun harus kuat dan cekat. Kalau tidak, yah siap-siap lagi dengan omelan.
 
Ketika melewati ruangan Pak Ikmal, Tejo membatin. Seandainya Pak Ikmal minta tolong lagi, Sati pasti senang. Kalau meminta tolong dibelikan sesuatu Pak Ikmal adalah satu-satunya bos yang jarang meminta uang kembalian. Uang sisa akan dilewatkan saja untuk office boy yang membantu.
 
Tiba-tiba, Pak Ikmal melambaikan tangan. Cepat dan tanggap Tejo langsung mendatanginya. Dan benar saja, setelah pesanan selesai diantar, “Anggap saja uang terima kasih,” kata-kata itu  keluar dari mulut Pak Ikmal, diiringi senyum manis pula. “Semoga beruntung,” sambung Pak Ikmal. Tejo mengerutkan kening. Agak aneh. Ah sudahlah, kata hatinya.
 
Ketika jam kantor berakhir, Tejo mulai sibuk kembali masuk-keluar ruangan untuk memberesakan gelas bekas minum. Hilir-mudik menenteng sepuluh sampai lima belas gelas kosong.  Tapi nasib berkata lain kali ini, saat jam kontor berakhir dan Tejo mulai mambawa baki gelasnya dari ruangan ke ruangan. Langkahnya terhenti, ia memperhatikan di sekitar. Begitu banyak polisi yang datang ke kantornya kali ini. Menggeledah ruang demi ruang yang ada, Tejo bingung, kepalanya menoleh kanan kiri. Tertangkap oleh matanya Pak Ikmal duduk lesu, badan kurus tingginya terkulai di kursi kerja. Dia diam beku, tak berbuat apa-apa saat satu per satu lemari dan laci di ruanganya diperiksa dan diobrak-abrik polisi.
 
Tak puas di ruangan orang berdasi, ruang yang tak penting pun tak luput dari perhatian.  Polisi melintasi Tejo yang berdiri kaku di samping pintu dapur. Salah satunya menoleh ke Tejo dengan mata tajam, beberapa mulai memeriksa lemari kecil milik para office boy.
 
Polisi itu menemukan tas berwarna hitam dari lemari yang disudutnya tertempel tulisan kecil, Tejo.
“Blar…,” belasan gelas yang dipegang Tejo terjun bebas ke lantai berkeramik putih itu. Seketika bising, sisa-sisa serbuk kopi yang sudah bercampur air memercik kemana-mana.
 
“Mana yang Tejo?” tertangkap oleh matanya nama kecil yang dijahid di sisi kanan di baju lusuh warna abu-abu muda. “Kamu!,” polisi itu mengarahkan telunjuk tangan kirinya ke arah Tejo. Tangan kanannya erat memegang sepucuk senapan api yang terselip di pinggangnya.
 
Tejo tergeragap. Mulutnya menganga, tapi tak satu kata pun yang keluar. Dia menggeleng-geleng ketika polisi mulai meringkusnya. “Apa ini…,, kenapa saya?” Tejo bingung. Dia mencoba melepaskan genggaman dua polisi itu. Ia meronta bak cacing gila, sekuat ia meronta, lebih kuat lagi polisi itu menerkamnya.
klik…kilk, borgol mengunci tangan Tejo. 

***
Sebulan sudah Tejo tak lagi bisa bersamanya. Langkah Sati kuyu menuju ke tempat sidang. Tak ada kata-kata dalam perjalanan itu, hanya mata dan bibir yang penuh asa, sarat doa. Menjadi orang bodoh, sungguh amat tak enak. Mudah saja dibodohi, karena memang tidak bisa melawan, batin Sati.
 

“Saya tidak mencurinya,” berkali-kali Tejo mengulang kalimat itu. Dia sudah berani berbicara sekarang.
“Uang dalam tas itu, ditemukan di dalam lemari saudara, saudara tak bisa mengelak lagi,” tegas seorang laki-laki yang terus-menerus mengeluarkan kata, kalimat demi kalimat untuk Tejo.
 
Tuduhan demi tuduhan ditujukan kepada Tejo. Riuh. Debat di ruang itu.
Sati duduk, barisan paling depan di bangku hadirin sidang, diam, menunduk, memencet-mencet jari telunjuk kirinya dengan tangan kanannya. Keningnya berkerut, agaknya ia mencoba meresapi  kalimat-kalimat yang disampaikan dalam persidangan.
 
Kata-kata laki-laki berdasi dan berjas hitam itu, membuat sati mengulas senyum, laki-laki itu sering mendatangi Sati setelah sebulan Tejo menjadi terdakwa. Pak Pengacara, begitu Sati memangil laki-laki itu.
“Suamiku bukan pencuri…” teriakan nyaring akhirnya keluar dari mulut  Sati.
Seisi ruang yang tadi mendengung senyap. Lagi, bunyi palu hakim kembali mengantarkan Tejo  ke tempat penginapannya sebulan terakhir.
 
Sati beranjak jauh meninggalkan kantor  pengadilan itu, keningnya terus berkerut, ia mencoba menyerap dengan baik kalimat demi kalimat yang disadap telinganya di persidangan. “Saya tidak mencurinya.”  Kata-kata itu selalu membawa Sati terbayang wajah pucat tak berdosa suaminya. Tak tahu pasti apa yang akan dilakukan atau yang akan diperbuat Pak Pengacara. Bahkan Sati pun tak paham, kenapa Pak Pengacara itu mau membantu dan membela suaminya di pengadilan.
 
Langkahnya lemah, terdengar suara laki-laki memangilnya. “Mbak Sati…,” pelan ia menoleh ke belakang, Pak Pengacara mendatanginya lagi. Pelan dan teratur, tapi Sati tak kunjung juga paham penjelasan yang diulas pengacara itu. “Suamimu dalam kondisi terjepit, uang perbendaharaan pengadilan yang hilang itu ada di lemarinya,” pengacara itu mencoba menjelaskan titik persoalan sebenarnya pada Sati.
 
“Aku tak percaya suamiku yang, mencuri, mustahil,” kata Sati.
“Tapi tak ada bukti, yang bisa meringankan suamimu,” kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu membuat muka Sati pucat pasi. “Aku berharap Bapak bisa membantu”,
“Kita akan berusaha,” tegas Pak Pengacara.
 
Sati melangkah lesu meninggalkan harapan pada pengacara itu. Samar, lagi Sati mendengar, seseorang memanggil-manggil Pak Ikmal. Sati melengong kiri kanan untuk melihat mana sosok Pak Ikmal itu. Saat nampak oleh Sati, seorang laki-laki berdiri tegak menanti seseorang yang tergopoh-gopoh membawakan tas padanya. “Pak Ikmal, tas anda ketinggalan,” laki-laki itu  agak membungkukkan badan dan memberikan tas mengkilap pada sosok Pak Ikmal.
 
Sati mempercepat langkahnya, ia berusaha terus mendekati Pak Ikmal, “Pak Ikmal, benarkan Bapak, Pak Ikmal yang sering diceritakan suami saya di rumah,” tanpa basa-basi Sati membuat Pak Ikmal berdiri diam.
“Ya, Saya Ikmal,” balas laki-laki itu dengan sunggingan senyum.
 
“Ternyata benar, Anda murah senyum, suami saya tak salah mengagumi Anda,”, Pak Ikmal menampak sungingan senyumannya lagi.
 
“Siapa suamimu?” Tanya Ikmal sambil menarik pelan  pintu mobil mewahnya.
     “Tejo Pak, yang disidang tadi. Tejo, Tejo Pak,” Sati begitu tergesa mengulang kata-katanya. Gerak Pak Ikmal terhenti, diperhatikannya sosok Sati, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Baju lusuh dan celana kusam yang di kenakan Sati membuat ia menutup kembali pintu mobilnya.
 
Ikmal melangkah ke pintu yang satu lagi, dibukakannya untuk Sati. “Masuklah,” tuturnya. Canggung, Sati melangkah ke dalam mobil itu. Diam, hening. Sati masih heran, bingung. “Suami saya sering bercerita tentang Anda, dia sangat berharap bisa membelikan Anda makanan tiap hari,” tutur Sati membuka percakapan.
 
Tak ada balasan dari Ikmal, saat satu persatu kata pujian yang sering diceritakan Tejo pada Sati mengalir dalam ruang sempit mobil itu. “ Hari itu, lama saya menanti suami saya pulang, tapi tak kunjung tiba, gelisah dan risau mulai meyelimuti saya, tak biasa dia seperti itu,”. Sati tak habis mengulas tentang suaminya.
 
Dada Ikmal bergejolak. Aku begitu kejam, kotor, betapa hina yang kulakukan, lihat perempuan ini, ohh … tidak, aku malu,  ini ulahku,  batin Ikmal semakin sesak penyesalan.
 
“Sampai saya menerima pesan dari seorang teman kerja suami saya kalau dia ditangkap polisi,” Sati melenguh halus
“Tipis, kata pengacara yang membantu suami saya,” Sati terus bercerita.
“Mudah-mudahan suami saya segera bebas,” ucap Sati pelan.
 
Sati menoleh ke Pak Ikmal yang tak kunjung menjawab. “Pak, Pak,” Sati membangunkan Pak Ikmal dari lamunanya.
Cieetttt, mobil itu merem mendadak. “Suamimu tak bersalah, aku percaya itu,” balas Pak Ikmal. Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
 
Mobil itu kembali melaju, menerobos jalan lurus, simpang demi simpang. “Saya di sini saja, itu rumah saya, di bawah pohon rimbun, yang beratapkan genteng itu,”.
“O… baiklah”. Ia melongok ke luar lewat jendela kaca.
“Tak mampirkah Anda ke gubuk saya?”
”Terimakasih, tak usah,” balas Pak Ikmal dengan nada tertahan. Dadanya sesak.

***
 
Harapan untuk kebebasan Tejo selalu ada dan peluang kian besar. Pak Ikmal. Itu kuncinya.  Sati duduk di barisan paling depan, terasa ada bungkahan besar mengganjal saat  dia menarik nafas. Keringat dingin mulai membasahi Sati. Wajah pucat dan cemas suaminya terus membayang.
 
Hari putusan terakhir yang akan mementukan nasib ia dan keluarganya. Ramai riuh sebelum sidang dimulai, Sati melihat di sudut ruangan Pak Ikmal duduk, mukanya ditekuk. Sati menyunggingkan senyuman pada Pak Ikmal, dia diam saja.
Banyak kata dan kalimat yang tak Sati mengerti dalam sidang itu. Lama, Pak Pengacara itu tak berdaya lagi karna ia tak bisa mendatangkan saksi untuk membantu Tejo.
 
Palu hakim diketukkan. Jeruji besi tlah menunggu tukang kopi itu untuk segera ditempati.
Sati duduk beku, terperosok. Dia menatap kuyu sosok Ikmal. Aku gila saja, batinnya.
090989, Desember 09.
 
 
Kritik Cerpen
 

Kesunyian Dramatisasi pada Kisah si Tukang Kopi

Oleh: Mohammad Isa Gautama, M.Si.
 


Kisah si Tukang Kopi, yang ditulis oleh Diana Besni memuat kritik sosial, ketika anggota masyarakat yang berada pada lapisan bawah menjadi martir alias korban dari kesewenang-wenangan, kelicikan oknum yang ditakdirkan menduduki strata lebih tinggi. Ide cerita kontekstual dengan hiruk-pikuk diinjak-injaknya, dijungkirbalikkannya logika hukum di negeri ini.
 
Bagaimana kisah yang terjalin dalam cerpen ini tentu tidak perlu kita uraikan lagi. Pembaca silahkan menyimaknya. Yang perlu dianalisis adalah bagaimana sang cerpenis meyakinkan pembaca bahwa tema yang diusungnya tidak jatuh kepada cerita klise yang gampang ditebak, kering, bahkan kurang dramatisasi. Jika usaha itu berhasil dijalankan, maka cerpen ini akan sarat dengan daya saran yang menggugat realitas, menggugah nilai-nilai sosial, menggigit secara kualitas.
 
Begitulah, seyogyanya karya sastra menjalankan peran plusnya ke tengah pembaca. Bukan sekadar cerita kosong layaknya gosip selebritis, pelipur lara atau penyenyak tidur, melainkan menghantarkan kesadaran bahwa ia tetaplah bersumber dari tragik dan problema kemanusiaan, selalu menyisakan sinar terang walau secercah untuk sebuah usaha pencerahan kemanusiaan. Tentu saja, karena karya fiksi apapun adalah karya yang beranjak dari kisah perjalanan manusia mengarungi kehidupannya.
 
Aspek logika menjadi penting, ketika jalinan cerita memilih berpusar pada gaya realisme. Logika realistis pun menjadi taruhan yang mesti eksis dalam jalinan cerita, plot demi plot.
 
Sayangnya, justru pada logika fiksi inilah Diana tersandung. Adalah suatu yang sulit diterima akal sehat, ketika Ikmal, sang pelaku utama konspirasi menjebak Tejo, dengan santainya mempersilakan istri Tejo untuk semobil dengannya, bahkan sampai mengantar pulang, tepat di saat proses persidangan kasus Tejo sedang berjalan. Alangkah bodohnya. Kebodohan yang tidak manusiawi dan tidak logis, si pelaku utama mau berdekat-dekat bahkan secara psikologis mencoba membuka ruang komunikasi antar pribadi, seolah-olah sudah berteman lama, dalam mobilnya. Realitas sebenarnya sehari-hari sangat jauh panggang dari api.
 
Perubahan situasi psikologis Ikmal yang begitu drastis, secara tiba-tiba saja langsung menyesal setelah mendengar keluhan istri Tejo, justru setelah melakukan konspirasi busuk terencana juga susah diterima akal sehat.
 
Pun, mestinya ada dramatisasi yang lebih mengena, tentang kisah tragis Tejo, lengkap dengan kronologis yang dibangun dengan dasar logika fiksi yang realistis. Sebuah karya fiksi, betapa pun fiktifnya, selalu berangkat dari realitas sebenarnya. Jika persyaratan itu dibenahi dengan seksama, maka ending cerita akan mengena pula, mencapai derajat klimaks, sebagaimana hakikat cerpen sebagai karya fiksi berdurasi pendek, selalu menyelesaikan cerita secara K.O, berbeda dengan Novel, yang senantiasa “menang angka”.



 
 
< Prev   Next >

Seputar Kampus

Jangan Berhenti Dipenonaktifan
Sejak Juni lalu, Komunitas Seni Pertunju...

Profesor UNP pun Siap Mengajar di SMA
Tahun ajaran baru ini SMA Pembangunan ak...

Tergagap di Program Mahasiswa Berprestasi
Program mahasiswa b...

Seret Musala Jadi Sekretariat
Musala yang terleta...

Timah Panas Melesat di UNP
Peristiwa peluru ny...

UNP Terbaik dalam Pembelajaran Aktif Nasional
UNP patut berbangga...

Membentengi PL dengan Berlatih
Mata kuliah Praktik...

Bersama Membangun Pendidikan yang Cerdas


Praktis...

Statistik

Counter Powered by  RedCounter











Powered by  MyPagerank.Net




















Berita Terkini