Sastra & Budaya
Puisi dan Kritik Puisi
Sajak Edisi 154 | Sajak Edisi 154 |
|
Sajak Ade Ristiany Cerita Alam Selalu alam menyapa lagi buah manis perih di ladang bumi Air, Tanah, Api dan Udara tak bosan bercerita akan kita Lagi-lagi alam mulai menyapa Lewat air, dengan laut dan sungainya mengurai segala amarah membersihkan cela dengan bah dan bandang Lagi-lagi alam pun menjagakan Lawat tanah, dengan gempa yang mengguncang menyadarkan tangan yang tak pernah jadi relawan serta hati yang selalu membangkang Lagi-lagi cahaya melotot pada ketamakan Lewat api yang buat hangus pupus mengintai mereka perlahan sekilas padam, mengarang Lagi-lagi, lagi dan lagi Kesejukan pun melambaikan aroma bangkai Semua bisa kau nikmati di bagian bumi! Pertiwiku… Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia BP 2007
Sajak Ulvina Haviza Tentang Kita Bicara Waktu
Bulan Delapan’09 Sang Penyaji Toreh dan coba retas sebuah laku. Melenggangkan labirin dalam ruang gerak seorang penyaji tahu. Di masa lalu, saat sepenggal demi penggal sosok itu menghiasi jalan didikan. Dengan juang, bersama gagas-gagas bangsa. Di saat ini, bersua dengannya menjadi niscaya di jejak-jejak hidup. Namun tak ada mulia semulai dulu… Ah! Sang penyaji tlah ciut pada ketiak peradaban, menguap dalam ketidakpastian. Mundur perlahan. Takluk, dipermainan materi, menyusut dalam peran yang bingung, samar. Tak menjadi terang Bukan lagi cahaya Mereka redup Mati Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BP 2008 Kritik Sajak Unsur Kecemasan Dalam SajakOleh: Drs. Andria Catri Tamsin, M.Pd. Tatkala Pimred koran kampus ini, meminta saya untuk mengulas puisi-puisi yang telah diterima redaksi dan sekaligus memilih puisi yang pas untuk ditampilkan dalam rubrik puisi, saya menjadi cemas. Ya, semacam kecemasan neorotik, yakni rasa tidak aman yang kemudian menimbulkan rasa bersalah dan ketakutan akibat pendapat serta penolakan orang lain. Saya cemas dan takut, bila ulasan saya tidak berterima karena bisa jadi tidak sesuai dengan perkembangan kritik sastra, apalagi setakat ini, dunia penciptaan puisi sempat syarat dan dengan sumber-sumber penciptaan yang ada di lingkunagn kehidupan penyairnya. Namun, dengan segera kecemasan dan ketakutan itu bisa saja saya atasi dengan sikap optimis. Saya menjadi tenang dan mulai menggali-gali potensi apresiasi saya agar puisi yang saya ulas benar-benar bermanfaat untuk pemahaman pembaca. Bila saya larut dalam kecemasan, saya yakin untuk seterusnya hidup saya akan sia-sia dan setiap hal yang saya lakukan, pasti tidak berarti dan tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Suasana batin ynag sama dengan yang saya rasakan, setidaknya juga dialami oleh Ade Ristiani dan Windi OM. Kedua penyair ini sama menyimpan rasa cemas dan diekspresikan dalam ketakutan akan kehidupan. Ade Ristiani menggambarkan ketakutannya pada perilaku alam yang teramat sering ”menyapa” manusia (suatu diksi yang satir abis), sebab sebanarnya manusia tidak tepat dengan kata ”disapa” lagi tapi sudah dihardik sekeras-kerasnya oleh alam melalui berbagai bencana dan penderitaan. Kecemasan yang berujung pada ketakutan terhadap alam memaksa Ade menggunakan senarai kata yang bertentangan untuk mengekspresikan perasaan itu. Lihatlah, pasangan kata-kata/manis perih/, /menyurat amarah/, /cahaya melotot/, /kesejukan melambaikan aroma bangkai/. /semua bisa kau nikmati/, menunjukkan bahwa kecamasan dan ketakutan Ade bersumber dari rasa pesimistis. Manusia tetap saja tidak mau merubah perilakunya dan rela menerima penderitaan akibat kecemasan alam. Bahkan saking ”madarnya” manusia seakan menikmati semua bencana alam yang terjadi di bumi pertiwi. Melalui pilihan kata yang bertentangan di atas, jelas bahwa Ade ingin mengungkapkan kekecewaannya pada manusia. Kecewa karena manusia tidak mau mengintropeksi diri setelah berbagai bencana alam kerap melanda kehidupan mereka. Bahkan digambarkan manusia tidak peduli dan merasa senang dan menikmati bencana-bencana tersebut. Kecemasan yang dilukiskan Windy dalam puisi ”sang penyaji” menukik pada kecemasan dalam bentuk kehilangan makna, keraguan tentang tujuan hidup, kehilangan keberanian untuk menggapai harapan dan keputus asaan mengahadapi masa depan. Hal yang pada masa lalu tidak pernah dialami oleh ”sang penyaji”, karena /di masa lalu, saat sepenggal demi sepenggal sosok itu menghiasi jalan didikan. Dengan juang bersama gagas-gagas bangsa/. Setakat ini, Windy tidak lagi menemui sosok atau tokoh yang berjuang dengan gagasan-gagasan bernas untuk kemajuan bangsa. Yang ditemui Windy hanyalah sosok atau tokoh yang membuat dirinya mengalami kecemasan-kecemasan seperti di atas. Lihatlah kecemasan itu pada larik /sang penyaji telah ciut pada ketiak peradaban, menguap dalam ketidakpastian. Mundur perlahan. Takluk.............../. |
| < Prev | Next > |
|---|
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
|