Sajak Edisi 154

Sajak Ade Ristiany

        Cerita Alam
 

Selalu
alam menyapa lagi
buah manis perih di ladang bumi
Air, Tanah, Api dan Udara
tak bosan bercerita akan kita

Lagi-lagi alam mulai menyapa
Lewat air, dengan laut dan sungainya
mengurai segala amarah 
membersihkan  cela dengan bah dan bandang

Lagi-lagi alam pun menjagakan
Lawat tanah, dengan gempa yang mengguncang
menyadarkan tangan yang tak pernah jadi relawan
serta hati yang selalu membangkang

Lagi-lagi cahaya melotot pada ketamakan
Lewat api yang buat hangus pupus
mengintai mereka perlahan
sekilas padam, mengarang

Lagi-lagi, lagi dan lagi
Kesejukan pun melambaikan aroma bangkai
Semua bisa kau nikmati di bagian bumi!
Pertiwiku…

Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia BP 2007
 

 

Sajak Ulvina  Haviza



Tentang Kita Bicara Waktu



Malam-malam marah
Karena pagi tergesa-gesa menggulung malam
Menyapu titik-titik yang menorah garis sejarah panjang
Saat kita bersama dalam masa kanak-kanak itu
Tanpa beban-beban baja yang tiba-tiba datang
    Dalam bola-bola kristal kecil bersama bermimpi telaga warna
Menghisap mata air-mata air dahaga hingga membatu
Menahun melangkah gontai ke lumbung-lumbung penyambung
Mengisi bekal-bekal kisah yang terus habis
    Oleh tinta yang jadi pedang, menghujam duka senang
yang terseok-seok bernama kenangan
Kenangan yang dibungkus waktu dalam kotak ingatan
Suatu waktu akan dimuntahkan dalam piring-piring nostalgia, entah bila
    Memori kan bercengkrama bersama waktu suatu waktu
Keinginan yang diiringi ketidakmampuan kembali ke masa-masa itu
Dengan seulas senyum tertahan diburu pilu
‘Aku selalu takut akan perpisahan’

Bulan Delapan’09
 
Sajak Windy Ocse Marta

Sang Penyaji

Toreh dan coba retas sebuah laku. Melenggangkan labirin dalam ruang gerak seorang penyaji tahu. Di masa lalu, saat sepenggal demi penggal sosok itu menghiasi jalan didikan. Dengan juang, bersama gagas-gagas bangsa.
Di saat ini, bersua dengannya menjadi niscaya di jejak-jejak hidup. Namun tak ada mulia semulai dulu…
Ah! Sang penyaji tlah ciut pada ketiak peradaban, menguap dalam ketidakpastian. Mundur perlahan. Takluk, dipermainan materi, menyusut dalam peran yang bingung, samar.
Tak menjadi terang
Bukan lagi cahaya
Mereka redup
Mati
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BP 2008


 

Kritik Sajak

Unsur Kecemasan Dalam Sajak

Oleh: Drs. Andria Catri Tamsin, M.Pd.
 

Tatkala Pimred koran kampus ini, meminta saya untuk mengulas puisi-puisi yang telah diterima redaksi dan sekaligus memilih puisi yang pas untuk ditampilkan dalam rubrik puisi, saya menjadi cemas. Ya, semacam kecemasan neorotik, yakni rasa tidak aman yang kemudian menimbulkan rasa bersalah dan ketakutan akibat pendapat serta penolakan orang lain.
Saya cemas dan takut, bila ulasan saya tidak berterima karena bisa jadi tidak sesuai dengan perkembangan kritik sastra, apalagi setakat ini, dunia penciptaan puisi sempat syarat dan dengan sumber-sumber penciptaan yang ada di lingkunagn kehidupan penyairnya.
Namun, dengan segera kecemasan dan ketakutan itu bisa saja saya atasi dengan sikap optimis. Saya menjadi tenang dan mulai menggali-gali potensi apresiasi saya agar puisi yang saya ulas benar-benar bermanfaat untuk pemahaman pembaca. Bila saya larut dalam kecemasan, saya yakin untuk seterusnya hidup saya akan sia-sia dan setiap hal yang saya lakukan, pasti tidak berarti dan tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Suasana batin ynag sama dengan yang saya rasakan, setidaknya juga dialami oleh Ade Ristiani dan Windi OM. Kedua penyair ini sama menyimpan rasa cemas dan diekspresikan dalam ketakutan akan kehidupan.
Ade Ristiani menggambarkan ketakutannya pada perilaku alam yang teramat sering ”menyapa” manusia (suatu diksi yang satir abis), sebab sebanarnya manusia tidak tepat dengan kata ”disapa” lagi tapi sudah dihardik sekeras-kerasnya oleh alam melalui berbagai bencana dan penderitaan.
Kecemasan yang berujung pada ketakutan terhadap alam memaksa Ade menggunakan senarai kata yang bertentangan untuk mengekspresikan perasaan itu. Lihatlah, pasangan kata-kata/manis perih/, /menyurat amarah/, /cahaya melotot/, /kesejukan melambaikan aroma bangkai/. /semua bisa kau nikmati/, menunjukkan bahwa kecamasan dan ketakutan Ade bersumber dari rasa pesimistis. Manusia tetap saja tidak mau merubah perilakunya dan rela menerima penderitaan akibat kecemasan alam. Bahkan saking ”madarnya” manusia seakan menikmati semua bencana alam yang terjadi di bumi pertiwi.
Melalui pilihan kata yang bertentangan di atas, jelas bahwa Ade ingin mengungkapkan kekecewaannya pada manusia. Kecewa karena manusia tidak mau mengintropeksi diri setelah berbagai bencana alam kerap melanda kehidupan mereka. Bahkan digambarkan manusia tidak peduli dan merasa senang dan menikmati bencana-bencana tersebut.
Kecemasan yang dilukiskan Windy dalam puisi ”sang penyaji” menukik pada kecemasan dalam bentuk kehilangan makna, keraguan tentang tujuan hidup, kehilangan keberanian untuk menggapai harapan dan keputus asaan mengahadapi masa depan. Hal yang pada masa lalu tidak pernah dialami oleh ”sang penyaji”, karena /di masa lalu, saat sepenggal demi sepenggal sosok itu menghiasi jalan didikan. Dengan juang bersama gagas-gagas bangsa/.
Setakat ini, Windy tidak lagi menemui sosok atau tokoh yang berjuang dengan gagasan-gagasan bernas untuk kemajuan bangsa. Yang ditemui Windy hanyalah sosok atau tokoh yang membuat dirinya mengalami kecemasan-kecemasan seperti di atas. Lihatlah kecemasan itu pada larik /sang penyaji telah ciut pada ketiak peradaban, menguap dalam ketidakpastian. Mundur perlahan. Takluk.............../.
 
< Prev   Next >

Seputar Kampus

Jangan Berhenti Dipenonaktifan
Sejak Juni lalu, Komunitas Seni Pertunju...

Profesor UNP pun Siap Mengajar di SMA
Tahun ajaran baru ini SMA Pembangunan ak...

Tergagap di Program Mahasiswa Berprestasi
Program mahasiswa b...

Seret Musala Jadi Sekretariat
Musala yang terleta...

Timah Panas Melesat di UNP
Peristiwa peluru ny...

UNP Terbaik dalam Pembelajaran Aktif Nasional
UNP patut berbangga...

Membentengi PL dengan Berlatih
Mata kuliah Praktik...

Bersama Membangun Pendidikan yang Cerdas


Praktis...

Statistik

Counter Powered by  RedCounter











Powered by  MyPagerank.Net




















Berita Terkini