Sajak Edisi 152

Sajak Bayu Agustari Adha



Miss you much peter

 


                     Pada kilang minyak anjing berbondong-bondong manja
    Apakah nasi masih bisa dimakan, mulut masih bisa menganga
                                                                                 Jawabannnya ada pada terumbu karang dan belalang
                                 Jamanku yang kongkalingkong jorok menuai nafsu
                        Hati mati berduri di jari jemari lumpur kekotoran
  Kebanggaan anjing kekonyolan para media omong kosong ,
                                      Menjadi kosong melompong di kursi juragan ompong berkalung tong sampah
                      Tak kuat ku menjilat setiap pemaparan janji pusaka para ulayat
             Yang menunggu menjadi mayat dalam kantong pelayat
   Karam kah hati janda muda seorang duda toko es kelapa?
               Mestikah kuteteskan ke “seni” an ku untuk membuat sebuah peta?
 Tidak!!!!  ku bukan pelompat kata pengumpat sebuah ketupat
                      Relakah motor ceperku mendarat di tanah asinan yang jarang mandi?
Rela dong! Kenapa harus bengong  kalau makan lontong

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris BP 2004

 

Sajak Salmizul Fitria



Hanya Rindu
 


aku rindu akan damai yang dulu bermain-main dirumah kita
dulu kita selalu menyungging tawa dalam ranah kaca
berebut rimah-rimah yang terserak di lantai
    tapi kini nasi tersedia dalam napan kaca
    namun tak seorang pun yang menyentuhnya
        ada orang yang menaruhnya semalam
menjanjikan kenyang tapi bukan kedamaian
rupanya kelam dengan gigi putih menyungging
menyaksikan ayam mati di lumbung
bila embun terlewat putih
rindu ku teramat kuat menguap dalam ranah kaca
lapangkan dasimu kawan…
tinggalkan aku sendiri atau aku yang akan pergi
meninggalakan lumbung ini
jangan sampai ada yang dibungkus kafan
    aku hanya rindu rimah-rimah
        setelah
pemilihan ini

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris BP 2005
 
 
 Sajak Sulung Lahitani M

TERKUNGKUNG

Bulir-bulir gerimis mencumbu daratan
Waktu itu, cahaya begitu temaram
Jejak langkahku masih tercetak
Saat ratapku bergema di lorong sunyi

Dunia sudah terlalu penuh, bukan?
Setiap hari rengekan kecil bergema di sela fajar
Lalu masihkah ada ruang untuk kita?
‘kan kesendirian?

Foto-foto suram membayangiku
Mengeja memori, saat kebebasan masih bernama
Lelahku mengorek tanah penghabisan
Mencari sisa jeda yang mungkin masih tercecer

Duhai, waktu. Lihatlah.
Topeng-topeng terlalu banyak berserakan
Terbuang bersama denting jam dinding
Mereka butuh topeng baru.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia BP 2007

 

 Kritik Sajak

Kunci Utama: Visi


Banyak cara para kritikus membicarakan puisi. Ada pembicaraan atau pengkajian yang memusatkan perhatian pada struktur yang dibangun puisi dan ada pula pembicaraan mengenai hal-hal lain yang berada di luar puisi yang menyangkut realitas sosial yang digunakan penyair dalam menciptakan sajaknya. Pembicaraan pertama berkaitan dengan unsur bunyi, penggunaan kata, penampilan biografi, dan juga pemakaian gaya bahasa.
Berkaitan dengan penggunaan kata, Sutardji Calzoum Bachri dalam tulisannya yang  terdapat pada Kompas, 12 Januari 2001 mengatakan, “Menulis puisi adalah menulis visi, bukan sekedar berindah-indah, beraneh-aneh, atau berajaib-ajaib dengan kata”. Visi seorang penyair harus jelas terangkum dalam serangkai kata yang memang sengaja disusun sedemikian rupa. Visi-visi yang jelas tersebut banyak kita jumpai pada penyair-penyair sebelum periode 1970-an.
Memasuki periode 1970-an, banyak pengucapan baru muncul dalam dunia sajak. Sebagai contoh; Remy Silado dengan pengucapan emblingnya, Sutardji CB dengan mantranya, dan Danarto dengan puisi konkretnya. Pengucapan-pengucapan yang baru tersebut memperlihatkan perkembangan baru visi yang ditampilkan dalam sebuah sajak kadang tidak memerlukan kata-kata yang indah sebagai syarat makna. Bahkan dengan kata-kata yang sederhana pun, visi penyair bisa terbaca. Visi tersebut yang tidak tampak jelas dalam sajak Ganto kali ini.
 Kaburnya visi dalam sebuah sajak bisa jadi disebabkan karena kurang mahirnya penyair memadukan antara baris demi baris dan bait demi bait dalam sajak-sajak mereka. Sajak karya Bayu Agustari Adha yang berjudul ”Miss You Much Peter” dan sajak Sulung Lahitani M yang berjudul “Terkungkung” memperlihatkan keterlepasan antara judul dan isinya. Oleh sebab itu, keduanya tidak memiliki kepaduan. Kalau kita membaca sajak-sajak karya penyair semisal Chairil Anwar, terlihat kepaduan yang terdapat dalam sajaknya. Lihat saja sajak ”Cinta Ku Jauh di Pulau”. Kata-kata yang tersirat dalam bait-bait sajak tersebut memperlihatkan hubungan yang padu dengan judulnya, tidak terlepas dan tidak berjarak.
Rahmat Djoko Pradopo dalam buku Pengkajian Puisi (1993:92) menyatakan bahwa sajak-sajak yang tidak memiliki kepaduan dalam penggunaan kata-kata dan kekacauan dalam penggunaan citraan atau pengimajian adalah sajak gelap. Sajak-sajak yang seperti itu tidak mampu memperlihatkan visi yang jelas sehingga sajak tersebut hanya seperti susunan kata-kata yang aneh dan ajaib.
Dua sajak Ganto tersebut menggunakan bunyi-bunyi yang indah dan menimbulkan efek puitis yang bagus, akan tetapi sebuah sajak tidak hanya sekedar indah dan puitis. Harus ada pesan dan pandangan penyair terhadap ”sesuatu’ yang dapat ditangkap oleh pembaca.
Sajak ”Hanya Rindu” karya Salmizul Fitria lumayan memperlihatkan visinya tentang perasaan rindu akan kesentosaan. Terlihat dati kepaduan antara judul dan baris demi baris sajaknya. Seperti bait pertama yang dibuka dengan //aku rindu akan damai yang dulu bermain-main di rumah kita//. Begitu pula bait //dulu kita selalu menyungging tawa dalam ranah kaca// yang mencerminkan kurun waktu yang sudah lama terjadi dan tidak ada sekarang. Rasa rindu akan kesentosaan itu semakin menguat pada baris kedua bait keempat //rindu ku teramat kuat menguap dalam ranah kaca// dan //aku hanya rindu rimah-rimah//. Kemudian dipertegas Salmizul dengan keinginannya akan kesentosaan yang akan datang setelah perhelatan politik di negara ini, baris terakhir //setelah, pemilihan ini//. Dan secara keseluruhan sajak Salmizul Fitria memperlihatkan kerinduannya akan kesentosaan yang diharapkannya akan diperoleh setelah pemillu nanti.
Sebenarnya sajak apapun dari penyair mana pun tidak ada yang salah. Hanya selera pembaca dan ukuran kritikus kadang terlalu ideal sehingga sebuah sajak ada saja salahnya.[]
 
< Prev   Next >

Seputar Kampus

Jangan Berhenti Dipenonaktifan
Sejak Juni lalu, Komunitas Seni Pertunju...

Profesor UNP pun Siap Mengajar di SMA
Tahun ajaran baru ini SMA Pembangunan ak...

Tergagap di Program Mahasiswa Berprestasi
Program mahasiswa b...

Seret Musala Jadi Sekretariat
Musala yang terleta...

Timah Panas Melesat di UNP
Peristiwa peluru ny...

UNP Terbaik dalam Pembelajaran Aktif Nasional
UNP patut berbangga...

Membentengi PL dengan Berlatih
Mata kuliah Praktik...

Bersama Membangun Pendidikan yang Cerdas


Praktis...

Statistik

Counter Powered by  RedCounter











Powered by  MyPagerank.Net




















Berita Terkini