Sastra & Budaya
Puisi dan Kritik Puisi
Sajak Edisi 152 | Sajak Edisi 152 |
|
Sajak Bayu Agustari Adha Miss you much peter
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris BP 2004
Sajak Salmizul Fitria Hanya Rindu
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris BP 2005 TERKUNGKUNG Bulir-bulir gerimis mencumbu daratan Waktu itu, cahaya begitu temaram Jejak langkahku masih tercetak Saat ratapku bergema di lorong sunyi Dunia sudah terlalu penuh, bukan? Setiap hari rengekan kecil bergema di sela fajar Lalu masihkah ada ruang untuk kita? ‘kan kesendirian? Foto-foto suram membayangiku Mengeja memori, saat kebebasan masih bernama Lelahku mengorek tanah penghabisan Mencari sisa jeda yang mungkin masih tercecer Duhai, waktu. Lihatlah. Topeng-topeng terlalu banyak berserakan Terbuang bersama denting jam dinding Mereka butuh topeng baru. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia BP 2007
Kritik Sajak Kunci Utama: VisiBanyak cara para kritikus membicarakan puisi. Ada pembicaraan atau pengkajian yang memusatkan perhatian pada struktur yang dibangun puisi dan ada pula pembicaraan mengenai hal-hal lain yang berada di luar puisi yang menyangkut realitas sosial yang digunakan penyair dalam menciptakan sajaknya. Pembicaraan pertama berkaitan dengan unsur bunyi, penggunaan kata, penampilan biografi, dan juga pemakaian gaya bahasa. Berkaitan dengan penggunaan kata, Sutardji Calzoum Bachri dalam tulisannya yang terdapat pada Kompas, 12 Januari 2001 mengatakan, “Menulis puisi adalah menulis visi, bukan sekedar berindah-indah, beraneh-aneh, atau berajaib-ajaib dengan kata”. Visi seorang penyair harus jelas terangkum dalam serangkai kata yang memang sengaja disusun sedemikian rupa. Visi-visi yang jelas tersebut banyak kita jumpai pada penyair-penyair sebelum periode 1970-an. Memasuki periode 1970-an, banyak pengucapan baru muncul dalam dunia sajak. Sebagai contoh; Remy Silado dengan pengucapan emblingnya, Sutardji CB dengan mantranya, dan Danarto dengan puisi konkretnya. Pengucapan-pengucapan yang baru tersebut memperlihatkan perkembangan baru visi yang ditampilkan dalam sebuah sajak kadang tidak memerlukan kata-kata yang indah sebagai syarat makna. Bahkan dengan kata-kata yang sederhana pun, visi penyair bisa terbaca. Visi tersebut yang tidak tampak jelas dalam sajak Ganto kali ini. Kaburnya visi dalam sebuah sajak bisa jadi disebabkan karena kurang mahirnya penyair memadukan antara baris demi baris dan bait demi bait dalam sajak-sajak mereka. Sajak karya Bayu Agustari Adha yang berjudul ”Miss You Much Peter” dan sajak Sulung Lahitani M yang berjudul “Terkungkung” memperlihatkan keterlepasan antara judul dan isinya. Oleh sebab itu, keduanya tidak memiliki kepaduan. Kalau kita membaca sajak-sajak karya penyair semisal Chairil Anwar, terlihat kepaduan yang terdapat dalam sajaknya. Lihat saja sajak ”Cinta Ku Jauh di Pulau”. Kata-kata yang tersirat dalam bait-bait sajak tersebut memperlihatkan hubungan yang padu dengan judulnya, tidak terlepas dan tidak berjarak. Rahmat Djoko Pradopo dalam buku Pengkajian Puisi (1993:92) menyatakan bahwa sajak-sajak yang tidak memiliki kepaduan dalam penggunaan kata-kata dan kekacauan dalam penggunaan citraan atau pengimajian adalah sajak gelap. Sajak-sajak yang seperti itu tidak mampu memperlihatkan visi yang jelas sehingga sajak tersebut hanya seperti susunan kata-kata yang aneh dan ajaib. Dua sajak Ganto tersebut menggunakan bunyi-bunyi yang indah dan menimbulkan efek puitis yang bagus, akan tetapi sebuah sajak tidak hanya sekedar indah dan puitis. Harus ada pesan dan pandangan penyair terhadap ”sesuatu’ yang dapat ditangkap oleh pembaca. Sajak ”Hanya Rindu” karya Salmizul Fitria lumayan memperlihatkan visinya tentang perasaan rindu akan kesentosaan. Terlihat dati kepaduan antara judul dan baris demi baris sajaknya. Seperti bait pertama yang dibuka dengan //aku rindu akan damai yang dulu bermain-main di rumah kita//. Begitu pula bait //dulu kita selalu menyungging tawa dalam ranah kaca// yang mencerminkan kurun waktu yang sudah lama terjadi dan tidak ada sekarang. Rasa rindu akan kesentosaan itu semakin menguat pada baris kedua bait keempat //rindu ku teramat kuat menguap dalam ranah kaca// dan //aku hanya rindu rimah-rimah//. Kemudian dipertegas Salmizul dengan keinginannya akan kesentosaan yang akan datang setelah perhelatan politik di negara ini, baris terakhir //setelah, pemilihan ini//. Dan secara keseluruhan sajak Salmizul Fitria memperlihatkan kerinduannya akan kesentosaan yang diharapkannya akan diperoleh setelah pemillu nanti. Sebenarnya sajak apapun dari penyair mana pun tidak ada yang salah. Hanya selera pembaca dan ukuran kritikus kadang terlalu ideal sehingga sebuah sajak ada saja salahnya.[] |
| < Prev | Next > |
|---|
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
|