Home arrow Ensiklopedi arrow Pupusnya HAM, Akhir Cerita Joesoef Isak
Pupusnya HAM, Akhir Cerita Joesoef Isak
Hak Asasi Manusia (HAM) hampir menjadi sebuah ironi di masa pascademokrasi ini. Tidak banyak orang yang berani tegas memperjuangkan HAM di negeri ini. Segelintir orang-tersebut malah mengalami nasib tragis dalam sejarah hidupnya. Joesoef Isak adalah salah satunya. Pada zamannya, Joesoef adalah orang besar dan berpengaruh karena kepemimpinan dan perjuangannya dalam pembelaan HAM. Namun, pada tahun 1967 hingga 1977, Joesoef dipenjara tanpa mengalami proses peradilan. Ia dianggap simpatisan PKI.



 
Lepas dari penjara, ia mendirikan Hasta Mitra bersama dengan Hasym Rachman dan Pramoedya Ananta Toer. Tujuannya untuk menerbitkan karya-karya Pram yang dilarang publikasinya di zaman itu. Akibatnya, ia  sering menerima surat panggilan untuk  diinterogasi. Namun, surat-surat itu tak mampu menggentarkan semangatnya untuk kembali menerbitkan karya-karya Pram.


 Keberaniannya melawan rezim Soeharto patut diacungi jempol. Bisa jadi, tanpa keberanian serta kegigihan dirinya dan Hasyim, buku Tetralogi Buru Pramoedya yang dimulai dengan Bumi Manusia, tak akan pernah diterbitkan. Bayangkan saja, buku-buku itu adalah novel Indonesia terbesar dan yang paling banyak terjual. Kini buku Bumi Manusia telah dicetak ulang ke-23 oleh Penguin dalam versi paperback. Putra Minang kelahiran 15 Juli1928 ini juga terkenal sebagai pribadi yang teguh pendirian dan sangat antidiskriminatif terhadap etnis Tionghoa. Karya terakhirnya yang belum diedarkan di toko buku adalah Memoir Ang Jang Goan, seorang Tionghoa nasionalis Indonesia yang terpaksa menyingkir dari Indonesia karena tekanan rezim Orde Baru dan wafat di Kanada.


Ia mengawali kariernya sebagai wartawan di koran Berita Indonesia. Pada tahun 1949, BM Diah membeli Berita Indonesia dan menggabungkannya dengan Koran Merdeka. Otomatis Joesoef pun menjadi wartawan Koran Merdeka. Terakhir, ia menjadi Pemimpin Redaksi. Namun setelah itu ia meninggalkan Koran Merdeka, karena ketidakcocokan pandangan politik dengan BM Diah.


Pada tahun 1960, Joesoef Isak pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asian African Journalist Association (AAJA), sekaligus menjabat sebagai ketua PWI Jakarta. Ia juga pernah menjabat sebagai wakil presiden International Organization of Journalist (IOJ).  Pada tahun 2004, untuk komitmennya atas kebebasan, ia mendapat penghargaan Jeri Laber International Freedom to Publish Award di New York. Setahun setelah itu, ia juga mendapatkan Wertheim Award dari Belanda dan PEN Keneally Award dari Australia. Kemudian, pemerintah Prancis menganugrahkannya Chevalier dans I’Ordre des Arts et des Letters pada tahun 2006, karena perjuangannya untuk kebebasan berekspresi di Indonesia.


Pada usianya yang menginjak 80 tahun, ia masih aktif menerjemah dan menjadi editor berbagai karya sastra, politik, sejarah dan buku bermutu lainnya. Tercatat sudah 80 judul buku yang telah lahir berkat Hasta Mitra dan menjadi sumbangan penting pada perjuangan pembebasan nasional. Dua hari menjelang kemerdekaan RI ke-64, Joesoef berpulang ke rahmatullah. Hasta Mitra telah menjadi saksi sejarah, saksi perjuangan seorang Joesoef  bersama rekan seangkatannya dalam membela HAM. Kini mereka telah tiada. Perjuangan heroik mereka akan tidak berarti jika tak ada penerusnya.

Windy Ocse Martha (dari berbagai sumber)

 

 
< Prev   Next >

Seputar Kampus

Jangan Berhenti Dipenonaktifan
Sejak Juni lalu, Komunitas Seni Pertunju...

Profesor UNP pun Siap Mengajar di SMA
Tahun ajaran baru ini SMA Pembangunan ak...

Tergagap di Program Mahasiswa Berprestasi
Program mahasiswa b...

Seret Musala Jadi Sekretariat
Musala yang terleta...

Timah Panas Melesat di UNP
Peristiwa peluru ny...

UNP Terbaik dalam Pembelajaran Aktif Nasional
UNP patut berbangga...

Membentengi PL dengan Berlatih
Mata kuliah Praktik...

Bersama Membangun Pendidikan yang Cerdas


Praktis...

Statistik

Counter Powered by  RedCounter











Powered by  MyPagerank.Net




















Berita Terkini