Home arrow Fajar arrow (Pasca)Gempa
(Pasca)Gempa
Apa benar tak ada yang salah jika semua sepakat berada pada zona aman? Ketika semua sepakat, tak akankah ada lagi masalah yang perlu dipikirkan. Selama ini permasalahan kerap kali timbul karena perbedaan pendapat. Perbedaan sudut pandang dan perbedaan pandangan.




Kini, semua yang sepakat hanya butuh satu alasan yang sama yaitu pascagempa. Guru, kepala sekolah, pemerintah, bahkan para pakar pendidikan, sepakat untuk memaklumi keadaan pasca gempa. Mari sepakat memakai tenda atau kelas darurat. Sepakat untuk memangkas jam belajar karena keadaan yang tak nyaman. Sepakat untuk mengikuti UAN dengan apa adanya dengan satu alasan kuat pasca gempa. Pendidikan pasca bencana memang selalu diwarnai suasana penuh pemakluman.


Education is not profit you for job. Benar, pendidikan memang tak menjamin seseorang memiliki pekerjaan. Education is a tool. Ia hanya alat menuju kehidupan yang layak. Meski bukan jaminan ia adalah salah satu standar peningkatan kualitas. Kualitas hidup, tak hanya individu namun bangsa.


Bagi kita bangsa Indonesia yang mengutamakan kepentingan negara (nasional) dibanding kepentingan pribadi dan golongan (daerah) ini, Ujian Akhir Nasional (UAN) kini masih menjadi satu-satunya indikasi keberhasilan siswa. Kali ini tanpa pemakluman. Dengan atau tanpa bencana. Pra atau pascagempa.


Tanpa pemakluman UAN akan tetap dilaksanakan. Tanpa pemakluman, pelaksanaannya pun dipercepat. Tanpa pemakluman siswa didaerah bencana pun harus ikut. Tak peduli Proses Belajar Mengajar yang tak efektif, jam belajar yang dipangkas dan persiapan UAN yang minim.


Lalu bagaimana dengan fenomena hidup lebih maju? Dimana setiap orang, dipastikan menginginkan hidup bahagia. Salah satu diantaranya yakni hidup lebih baik dari sebelumnya atau bisa disebut hidup lebih maju. Hidup maju tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan.


Sedikit menarik membahas filsafat pendidikan eksistensialisme disini. Filsafat pendidikan eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pada pilihan kreatif. Subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas.


Dengan realitas seperti diatas perlu dipertimbangkan dengan lebih subjektif eksistensi siswa-siswa dengan latar belakang hidup di daerah bencana. Tidak rasionalnya skema yang meletakkan mereka setara dengan siswa lain dalam mengikuti ujian untuk standar kelulusan. Atau justru ingin mengukuhkan lagi kecurangan yang menjadi tradisi tahun-tahun sebelumnya?


Filsafat pendidikan eksistensialisme ini juga perlu dilengkapi dengan apa yang disebut filsafat progresivisme. Pemikiran yang menganggap bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini tidak benar dimasa mendatang. Penyetaraan tindakan dengan keadaan yang berbeda menjadi hal yang tidak benar di masa depan siswa. Pendidikan progresivisme ini memang terpusat pada siswa, bukan yang lainnya. Elemen lain yang harus menyesuaikan dengan siswa.


Pelengkapan kedua filsafat pendidikan ini dalam menanggapi keadaan siswa pascagempa akan mengeluarkan kebijakan yang lebih bijak. Perhatikan siswa korban dengan lebih, terutama mengenai fasilitas dan sistem belajar. Bukan justru sepakat memaklumi keadaan pasca gempa sebagai takdir yang hanya diterima dengan lapang dada.

 
< Prev   Next >

Seputar Kampus

Jangan Berhenti Dipenonaktifan
Sejak Juni lalu, Komunitas Seni Pertunju...

Profesor UNP pun Siap Mengajar di SMA
Tahun ajaran baru ini SMA Pembangunan ak...

Tergagap di Program Mahasiswa Berprestasi
Program mahasiswa b...

Seret Musala Jadi Sekretariat
Musala yang terleta...

Timah Panas Melesat di UNP
Peristiwa peluru ny...

UNP Terbaik dalam Pembelajaran Aktif Nasional
UNP patut berbangga...

Membentengi PL dengan Berlatih
Mata kuliah Praktik...

Bersama Membangun Pendidikan yang Cerdas


Praktis...

Statistik

Counter Powered by  RedCounter











Powered by  MyPagerank.Net




















Berita Terkini