|
Masihkah kita sekarang ini menulis surat kepada orang tercinta melalui pos? Masih adakah gadis remaja kita sekarang yang menerima surat cinta dari kekasihnya seperti Hayati menerima surat cinta Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka yang terkenal itu?
Surat-surat mahasiswa kepada orang tua di kampung, minta dikirimkan uang segera karena keperluan mendesak, juga tidak ada lagi sekarang. Tukang pos yang dulu sibuk mengantarkan surat dengan setia, kini tidak lagi sesibuk itu. Sekarang, di abad XXI, sudah ada sms yang dapat ditulis, dikirimkan, dan diterima si alamat pesannya dalam hitungan detik. Dulu, sebelum ditemukan telepon selular, kegiatan sahabat pena di kalangan remaja masih ada. Bahkan, pernah berjaya, ketika kegiatan bersurat-suratan antar kenalan melalui pos difasilitasi oleh kantor pos pusat dengan menerbitkan majalah Sahabat Pena.
Zaman sahabat pena sudah menjadi sejarah masa lalu, kini berganti rupa, berkenalan dan saling bertukar informasi melalui face book. Meski demikian, tulisan dalam face book tidak lagi berpanjang-panjang, cukup singkat-singkat karena interaksi mirip percakapan bertatap muka, dapat terjadi dalam hitungan detik. Tidak diperlukan lagi tulisan indah, cukup bahasa spontan dalam ragam gaul, dan tidak diperlukan lagi jasa tukang pos. Kemajuan teknologi informasi telah mengubah kebiasaan menulis, mengarang surat dengan tulisan tangan yang indah, termasuk kebiasaan mengoleksi perangko.
Aktivitas menulis, memang merupakan salah satu saja dari empat aspek berbahasa yang diajarkan di sekolah. Keempat aspek itu adalah, mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Mendengarkan dan membaca adalah aktivitas reseptif, sementara berbicara dan menulis merupakan aktivitas produktif. Bahasa sebagai alat komunikasi untuk mengekspresikan diri, mengungkapkan pikiran dan perasaan, pada mulanya aktivitas berbahasa manusia hanyalah berbicara dan mendengarkan yang kemudian disebut dengan tradisi lisan. Barulah setelah sarana tulis berupa aksara ditemukan, fungsi bahasa menjadi lebih luas, yakni sebagai sarana ilmu pengetahuan. Jika tradisi menulis belum ditemukan hingga kini, tentulah peradaban dunia belum semaju sekarang.
Sehubungan dengan fenomena sms dan face booker di atas, apakah tradisi menulis akan ditinggalkan, atau telah berdampak pada penurunan produksi tulisan? Tapi, terlepas dari lompatan kemajuan teknologi informasi tersebut, tradisi menulis bangsa kita memang tidak menggembirakan. Buktinya, jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia setiap tahun dibandingkan jumlah penduduk, begitu jauh bila dibandingkan dengan bangsa Jepang. Jangankan Jepang, dengan negara tetangga saja kita sudah kalah. Memang, bangsa kita ternyata tidak terbiasa menulis dan membaca seperti tuntutan dunia yang maju. Oleh sebab itu, untuk mencapai Indonesia yang maju, minat dan kemampuan menulis dan membaca memang harus menjadi perhatian. (Harret)
|