|
Saat itu, seorang dosen berbaik hati mengopikan buku panduan untuk sekitar enam puluh mahasiswa. Sebelum pelajaran dimulai, si dosen mengatakan, buku-buku tersebut masih di jurusan. Tentu saja, buku sebanyak itu sangat berat. Dengan wajah penuh harapan, ”Ada yang bisa menolong Ibu mengangkatkan buku-buku tersebut dari jurusan ke lokal agar kuliah bisa dimulai?” tanya si dosen. Semua mahasiswi diam.
Mahasiswa (pria) yang doyan duduk di belakang saling tunjuk. ”Hei kamu, kan ketua kelas, tolong angkatkan dong,” kata yang seorang. Yang satu lagi menjawab, ”Hei, kamu tolongin,” ada lagi yang bilang, ”Kamu saja lah”, dan ”Tanganku sakit nih”. Hampir lima belas menit mereka saling menunjuk. Si dosen murka melihat keadaan itu dan akhirnya meminta dua orang mahasiswi untuk mengangkat 60 buah buku tersebut dari jurusan ke lokal kuliah. Entah apa yang membuat mahasiswa-mahasiswa itu memilih saling tunjuk. Normalnya, mereka mengangkat telunjuk ke atas. Tanda kesiapan dan kesanggupan. Tanda adanya rasa simpati kepada sang dosen yang telah mau repot-repot mengopikan buku untuk mereka. Satu telunjuk yang teracung menandakan inisiatif yang tinggi. Mengapa harus inisiatif? Inisiatif adalah karakter dasar. Potongan cerita sebelumnya menggambarkan inisiatif sebagai karakter yang telah hilang ditelan waktu. Padahal inisiatif adalah sarana mewujudkan kemampuan untuk mengajukan gagasan dan memperoleh solusi dari dalam diri. Karakter manusia dalam mencari ide-ide kreatif untuk mengatasi masalah. Karakter yang proaktif, bukan reaktif. Namun, kaum muda Indonesia seakan ‘malu’ unjuk gigi. Apakah kurikulum zaman orde baru berhasil mencetak generasi-generasi penakut? Ataukah pemuda masih nyaman menyandang gelar-seperti kata salah seorang teman di edisi sebelumnya, Mental Inlanders, alias mental kaum terjajah? Kenyataannya, saat ini kebebasan berpendapat sudah sangat terbuka. Bagi sebagian yang lain, kebebasan berpendapat malah menyemangati pemuda untuk saling kritik. Ketika diminta untuk mencari solusi dan memulai dari diri sendiri, semua seakan tuli dan saling tunjuk.
Padahal, inisiatif sering dikatakan sebagai karakter wajib bagi para pemimpin. Karakter inisiatif sangat diperlukan dalam memecahkan persoalan tanpa menunggu komando. Jadi, kehilangan inisiatif akan memberikan efek mengerikan bagi pemuda. Karena pemuda adalah calon pemimpin bangsa.
Efek mengerikan itu terlihat jelas pada: dari dulu hingga sekarang, Indonesia masih mengalami masalah yang sama. Seperti masalah TKI yang tak kunjung redam, perbatasan negara yang selalu menjadi titik panas, dan pelanggaran hak asasi manusia yang terus terjadi di Aceh dan Papua. Padahal tiap empat tahun, terjadi pergantian kepemimpinan. Apakah itu legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Namun tetap saja, Indonesia masih ‘jalan ditempat’, malah melangkah mundur. Seorang Character Specialist sekaligus pendiri Lembaga Konsultan Power Character, Jakoep Ezra, memberikan beberapa solusi untuk menumbuhkan karakter inisiatif. Di antaranya adalah dengan mengembangkan pola pikir dari dini, membaca, diskusi yang bersifat konstruktif, dan tidak menjadikan berpikir sebatas rutinitas.
Bagian yang tak kalah penting untuk mengembangkan karakter inisiatif adalah, membantu teman tanpa memikirkan untung dan rugi. Dalam artian, belajar meng‘iya’kan. Seperti ajaran Terrence, seorang trainer dalam film Yes Man! kepada Carl yang kehilangan semangat dan inisiatif dalam hidup: Mulailah mengatakan “Yes” untuk setiap kesempatan.
|