|
Oleh Riska Kasandra Begitu sempurnanya hari ini. Langit biru, awan putih, cahaya matahari tak mendung tak gersang dan tiupan angin ikut andil dalam pendukungan penerbangan kali ini. Rawa hijau dengan sela-sela rimbunnya semak-semak rendah pun memperlihatkan kesiapannya untuk suatu acara, penerbangan. Tampak lah dari ujung jalan setapak, dua orang bocah laki-laki sambil memikul masing-masing benda tipis di pundaknya yang satu berwarna keemasan dan yang lain berwarna putih bening, dan segulung benang di tanganya,berjalan santai pasti menuju tanah lapang. Tanah paling lapang di daerah itu. Tanah yang tak pernah sepi sepanjang musim kemarau dan selalu sepi saat musim penghujan. Lembaran tipis berbentuk jajaran genjang itu masing-masing pun punya nama. Yang berwarna emas yang mengilap biasa dipanggil Elang. Ia adalah pemenang kontes layang-layang di Kampung Baru tahun ini. Tak hanya tahun ini, gelar itu telah ia dapatkan 2 tahun lalu, saat ia mulai diciptakan. Dan yang berwarna putih bening biasa dipanggil Macho. Ia adalah juara kedua kontes layang-layang di Kampung Baru tahun ini. Ia termasuk pendatang baru di dunia perlayangan. Maklum ia baru berumur 1 bulan semenjak ditemukan Joko di pohon Mangga, yang kini menjadi tuannya. Masing-masing mereka dilengkapi dengan tiga lembar ekor yang menjulai panjang yang terbuat dari kertas kreep yang berwarna-warni . ”Hei kau siap untuk terbang hari ini?”tanya layang Macho kepada Elang.
”Sudahlah, kau kan tahu aku yang paling hebat dalam setiap penerbangan di antara layang-layang dikampung ini. Sebelum kau ada, aku sudah tiga kali berturut-turut juara di kampung ini,” balasnya. Secara bersamaan, kedua layang-layang itu pun dilepaskan. Mereka meliuk-liuk menggambarkan betapa senangnya mereka kembali terbang setelah tiga hari terkurung dikarenakan hujan yang mengguyur. “Hei Lang, lihat betapa indahnya pemandangan di sana!” Sorak Macho sambil melirik ke arah sungai yang mengitari pematang-pematang sawah nan hijau.
“Ah aku sudah pernah melihatnya! Bukankah saban hari kita selalu ke sini? Aku bosan melihatnya!” balas Elang. “Memang betul, hampir setiap penerbangan kita selalu di sini. Tapi mau bagaimana lagi, kita hanya layang-layang kecil yang selalu dikendalikan mereka! (melirik dua bocah di bawah) tanpa bisa bicara apa mau kita. Lagi pula, cuma tempat ini satu-satunya tempat pelepasan paling baik seantero kampung. Bukankah kontes kemarin di sini juga?” “Itu yang tak ku suka darimu! Kau selalu pasrah kepada mereka! Benar mereka adalah pengendali, mereka yang menaikkan, menurunkan, menarik, dan mengulur benang seenak hati, tapi ingat, kita ini layang-layang! Di atas lah tempat kita. Jika aku mau aku bisa lepas dari dia yang selalu mengurungku di gudang pada musim gangsing!” “Kau gila! Mana mungkin kau bisa lepas dari benang tebal itu? Kecuali kau punya pisau kecil untuk memotongnya! Jangan-jangan kau membawanya?”selidik Macho. “Aku tak perlu pisau atau apapun untuk membebaskanku! Kau akan lihat dengan kekuatanku aku bisa bebas”. Lanjut Elang dengan percaya diri. “Bermimpi kau? Walau kau adalah pemenang kontes layang-layang tiga kali berturut-turut tak mungkinlah talimu akan sampai ke sana,” ujar Macho di antara terpaan-terpaan angin yang sekali-kali memisahkan mereka sesaat. “Kau lihat gedung tinggi yang selalu mengeluarkan asap itu? Ku dengar itu lah tempat paling tinggi di kota. Aku ingin ke sana!” “Kau benar-benar gila Lang! Kau tidak sayang pada pengendalimu? Aku tahu dia sangat sayang padamu!” Larang Macho. “Ya. Bagaimana pun dia sangat berjasa bagiku. Tanpanya mungkin aku tak seterkenal ini sekarang. Tapi aku punya cita-cita Cho! Cita-cita yang ingin ku wujudkan. Aku yakin ia takkan kehilanganku. Ia bisa menemukan layang-layang yang lebih baik dariku, walau kemungkinannya kecil, ha ha ha ha,” ujar Elang sombong. “Terserahmu lah! Aku cuma mengingatkan, kau cuma layang-layang. Kau bukan burung yang seenaknya terbang ke mana pun yang kau ingin. Kau diikat dengan benang dan dikendalikan oleh dia!” Sambil menunjuk ke arah dua bocah yang menarik ulur benang di bawah mereka.
“Pokoknya aku ingin bebas! Aku ingin berkelana melihat semua yang ada di sudut dunia ini. Bukannya rawa-rawa ini. Apa kau tidak jenuh? Hampir setiap hari kau terbang tapi apa yang kau dapatkan, setiap hari pula kau pandangi hal yang sama”. ***
Angin kencang dan lebih berat. Terdengar bunyi tubrukan besar di bawah. Seorang gadis kecil menggelepar tersungkur dari sepeda motor yang dibawanya. Kerumunan orang menutupi darah yang tersimbah dari lehernya. Kepalanya nyaris putus. “Cho tolong aku.....sepertinya benangku mau putus! Benangku melukai gadis itu.” ujar layangan berwarna emas yang sering dipanggil Elang itu.
Seketika hubungan Elang dengan pengendalinya putus. Ia pun terbang tak tentu arah. “Elang.....”Teriak macho yang masih bisa bertahan tetap lekat pada pengendalinya. Angin yang kencang dan berat tadi berangsur-angsur melemah tetapi tetap bisa mengangkat tubuh Elang yang ringan. Ia meliuk-liuk tak karuan namun tetap cantik dipandang dari bumi seakan menari bahagia merayakan kebebasan dari pengikat citanya. Dari sini ia menikmati bentangan lahan lain yang tak biasa ia pandang. Ada sawah yamg hijau, burung pipit yang nakal diusir petani karena mencuri bulir-bulir padi yang baru tumbuh dan kepayahan sang pengendali mengejar-ngejar dirinya.
“Ini dia! Ini dia yang ku inginkan! Terbang di antara awan-awan, berpacu dengan para burung. Sungguh ini yang ku dambakan selama ini. Sayang, si Macho tak dapat menikmatinya. Tapi biarlah, toh aku yang meminta bukan?” Ungkapnya dalam hati.
Angin kembali mengencang dan mempercepat alunannya. Kedua bocah pengendali tadi pun tak terlihat lagi. Hampir 20 menit sang Elang melayang-layang di antara bumi dan langit. Rawa yang sarat dengan hijau pun hampir berlalu dari pandangan. Kini ia memasuki areal persawahan yang asing baginya. ”Apa ini persawahan di desa sebelah ya?” ujarnya dalam hati. Tak lama kemudian ia mendarat di puncak pohon Manggis yang sedang tak berbuah. Di hadapannya, ia melihat hal yang sangat janggal. Ia pun bertanya kepada burung jalak yang sedang melintas. “Hei kawan!” Sorak sang Elang kepada seekor burung jalak. “Kau memanggilku?” “Iya. Kenalkan aku Elang. Boleh kah aku bertanya kawan?” “Elang? Tapi kau sama sekali tidak terlihat seperti Elang?” “Apakah kau tahu tentang perihal di sana?” Sambil melirik kejadian di bawah dan menghiraukan pertanyaan burung kecil tersebut. “Maksudmu petani dan kerbau bule itu?” “Petani itu terlalu sayang kepada kerbau bulenya sampai-sampai dia menggantikan tugas binatang peliharaannya itu”. Jalak kecil itu pun berlalu, mencari kerbau-kerbau yang mau bersimbiosis mutualisme dengannya. Elang masih saja tertegun melihat pemandangan itu. Seorang petani dengan keringat sebesar jagung yang sekali-kali ia seka, sedang membajak di bawah terik matahari sedangkan sang kerbau berwarna pirang tak seperti kerbau biasanya, peliharaannya, sedang asyik ‘ngerumput’ di bawah pohon nan rindang. ”Apa yang sedang terjadi di dunia ini? Apakah sedang tren pembantu dibantu majikan?” Gumam Elang masih dari atas pohon Manggis nan hampa buah. Angin kembali bertiup, Elang pun tak kuasa menahan lajunya udara yang bergerak itu. Sepertinya akan menghantarkan sang Elang menuju tiang tinggi yang ia lirik saat terbang di atas rawa.
Tiga puluh menit sudah ia melayang-layang di antara kawanan burung yang berburu mencari makanan. Kilap warna bagaikan kilauan emas di antara kapas kusam lagit yang menebal. Bulan ini adalah bulan peralihan. Begitu cepat alihan hujan ke cerah maupun sebaliknya. Lama berkelana, layang-layang penanti kebebasan ini pun singgah di sebuah puncak tenda orange. Di bawahnya, keramaian menjadi objek utama untuk dimakan mata, hiruk pikuk pun menjadi bagian. “Hei kawan! Tempat apakah ini?” tanya Elang kepada seekor kucing hitam yang bertampang garong yang sedang membawa seekor ikan di mulutnya. “Kau bicara padaku?” tanya kucing itu. “Ya tentu saja, cuma kau yang bisa ku ajak bicara!” “Dasar layangan bodoh, kau tak tahu ini tempat apa? Apa gunanya kau terbang tinggi-tinggi jika kau tak tahu tempat ini!” “Sungguh kawan aku tak tahu tempat apa ini. Selama ini aku hanya terbang di atas rawa-rawa,” bela Elang. “Baiklah aku akan memberitahumu. Ini adalah tempat di mana kejujuran dan kecurangan menjadi satu, tempat di mana kebaikan dan kejahatan bercampur baur. Di sini Kau takkan bisa bedakan hitam putih, terkecuali kau adalah penghuni tetap tempat ini”.
“Hey kucing garong! Berani-beraninya kau kembali mencuri ikanku! Dasar kucing kurang ajar! Kemari kau, akan ku hajar kau sampai mampus! Jangan lari!” Terdengar suara teriakan makian dari ujung gang. Terlihat di sana seorang laki-laki baya sambil memegang surat kabar yang digulung dengan wajah merah marahnya.
“Kawan aku tinggal dulu! Ingat hidup itu tak mudah!” Dan kucing hitam bertampang garong itu pun berlalu seketika. Sudah sepuluh menit ia bertengger di atas puncak tenda berwarna orange itu. Angin tak jua mengajaknya ke tempat tujuannya, tiang tinggi yang ia pandang dari rawa. ”Ah membosankan hidup di sini, tak ada hal yang menarik untuk dipahami. Lebih baik aku balik lagi kepada Agus walaupun harus kembali terbang di rawa,” gerutu Elang. Tak sengaja dari atas puncak tenda ia melihat sesuatu. Seorang pemuda dengan mulusnya menggesek tas bawaan seorang ibu-ibu. Hanya berselang beberapa detik, tangan besar kasar itu keluar dengan benda hitam panjang yang tebal.
“Copet! Copet!” teriak si ibu yang menyadari apa yang sedang terjadi padanya. Spontan si pemuda tadi berlari di antara para pengunjung yang berdesakan. Dari tangannya benda hitam panjang agak tebal itu berpindah ke tangan seorang pemuda berjaket yang sedang berdiri tak jauh dari ibu yang kecopetan tadi. Para penduduk pasar pun mengahampiri sumber suara, namun tidak ada yang berlari mengejar orang yang membuat ulah. ***
Sudah dua jam elang beristirat di puncak tenda orange itu. Hari semakin gelap karena cahaya sang penerang ditutupi titik-titik air yang menyatu. Gemuruh pun terdengar, pertanda titik-titik air yang berkumpul itu akan berpisah. Angin kembali memamerkan kekuatannya. Betapa bisanya ia memindahkan sang layang dari tangan pengendali sampai ke pasar bising ini. Dan ia mengajak sang Elang berkelana. “Wouw......”Angin pun mengangkat tubuh ringannya. Kali ini pemandangnnya benar-benar berbeda. Semua yang ia lihat di bawahnya berupa kotak-kotak dengan segitiga atau segi empat di puncaknya. Lama melayang-layang di antara langit mendung dan bumi becek. Sisa benang penghubung antara ia dan pengendalinya tersangkut di sebuah kawat, ia pun kembali beristirahat, di sebuah tempat yang sangat tinggi dibanding tempat yang lain.
“Ini...ini..., bukankah ini tiang tinggi yang ku pandangi dari atas rawa?” Ujar Elang layang tak percaya. “Hore.....cita-cita ku terwujud! Sayang, si Macho tak ada di sini coba ia di sini pasti ia akan takjub melihat apa yang menjadi pandangannya. Dari sini aku bisa melihat rawa di mana aku sering dilepaskan, ada bukit dan lampu-lampu kecil nan indah terhampar luas bagaikan emas yang berkilau. Sungguh indah!” “Hei kawan! Tunggu, bolehkah aku bertanya?” ujar Elang pada sekawanan burung merpati yang sedang terbang. Kawanan merpati itu pun berhenti sejenak “Bisakah kalian katakan padaku tempat apakah ini” “Oooo selamat kawan, kau baru saja mendarat di gedung paling tinggi di kota ini tapi ingat kau harus berhati-hati di sini,” ujar seekor burung merpati.
“Kenapa?” “Kau akan rasakan sendiri, betapa tidak enaknya selalu menjadi yang tertinggi”. Timpal merpati lain. Dan kawanan itu pun berlalu setelah terdengar gemuruh yang menggelegarkan langit. Dan titik-titik air yang tertahan tadi pun jatuh bersamaan dengan angin kencang yang melanda bulan itu. Elang pun hanya bisa melayang-layang tertahan.
Oleh: Mohammad Isa Gautama, S.Pd., M.Si Wisata Kuliner Sastrawi yang Tanpa Kesan Menyimak cerpen “Layang” karya Riska Kasandra yang menjadi cerpen pilihan Redaktur Ganto edisi kali ini, seperti menyantap hidangan yang kekurangan bumbu di sana-sini. Memang, sebagai sebuah titik berangkat cerita, tema surealis yang coba dirangkai oleh penulis merupakan langkah kreatif yang patut dihargai. Riska mampu menggali imajinasinya atas sebuah layangan yang kerap terabaikan untuk menjadi bahan fiksi. Ya, dari sebuah layangan yang bahkan tidak memiliki korelasi apa-apa dengan hiruk-pikuk perpolitikan di tanah air, di tangan Riska mampu menjadi sebuah cerpen. Namun, sebuah cerpen tetaplah sebuah “hidangan istimewa” yang “wajib” memiliki daya pikat dan pesona tersendiri. Hidangan itu mestilah menggiurkan, enak, legit, dan lezat laksana santapan yang selalu diburu oleh Bondan Winarno dalam acara wisata kulinernya itu. Apalagi, mengingat hidangan itu ditawarkan pada komunitas kampus, di mana insan-insan intelektual berkutat di dalamnya. Untuk mencapai standar sebuah “hidangan” yang menggiurkan, sebuah cerpen mestinya memiliki daya saran yang kuat. Daya saran dapat diartikan sebagai magnet cerita, yang punya potensi untuk menghipnotis pembacanya, larut ke jalan cerita, bahkan kalau bisa membuat pembaca menggerutu, mengutuk, marah, kesal, atau terharu atas cerita dalam cerpen itu. Jika itu tidak ada, maka jadilah cerpen itu hambar, bagaikan hidangan yang kelupaan dibumbui garam, cabe, atau sedikit saus tomat oleh si tukang masak. Jika ini terjadi, maka pembaca, sebagai si pencicip hidangan, akan seperti dilecehkan, bahkan “diracuni” oleh cerita fiksi yang kosong, tanpa daya saran, di mana pembaca seolah ikut bertaruh dan bertarung untuk lebur di dalam cerita, betapapun fiktifnya. Elang dan Macho, sebagai si aktor cerita, seperi bermonolog, menutup diri akan sebuah kemungkinan dan potensi dialog yang komunikatif dengan pembacanya. Elang dan Macho seperti menulis diari yang betapapun tragisnya namun belum mampu menjalin jejaring sosial sekaligus sastrawi dengan pembacanya. Kenapa? Cerita impian Elang, tersangkutnya Elang di banyak tempat, setelah peristiwa putus benang dari si “pengendali”, seperti tidak menitipkan pesan apa-apa. Jika pun di bagian akhir cerita ada “kata-kata bijak” dari si Merpati mengenai risiko menjadi yang tertinggi, tetap tidak mampu memaksakan agar cerpen ini mempunyai “sesuatu” untuk “dibawa pulang” oleh “penonton (baca: pembaca) cerita”. Secara struktur bahasa, sang cerpenis pun perlu belajar lagi secara lebih intens agar lebih teliti menulis ejaan dan logika kalimat yang bernas. Sebagai contoh, perlu dikaji ulang apakah pemakaian di sebagai kata depan atau awalan sudah tepat guna. Jika belum (dan memang belum), “perkakas” untuk sebuah cerpen yang baik secara tegas dapat disimpulkan belum terkuasai dengan optimal oleh Riska Kasandra. Alhasil, layangan sekadar layangan yang tragis, sekaligus beruntung. Tragis karena tiba-tiba terperosok dalam nasibnya yang hampa. Beruntung dalam artian berhasil mencapai impiannya untuk hinggap di gedung tertinggi di kota itu. Lantas, setelah itu apa? Kita perlu menantikan jawabannya dengan seksama dari Riska Kasandra, di cerpen-cerpen berikutnya.***
|