|
Oleh Rara Sandhy Winanda Idealisme bagi mahasiswa merupakan hal yang menempati hierarki tertinggi. Sejak saat mahasiswa baru menginjakkan kakinya di Perguruan Tinggi, apakah itu swasta maupun negeri, mereka akan dibekali nilai-nilai solidaritas, perjuangan, dan perasaan senasib. Mahasiswa bukanlah orang-orang yang berada di posisi manja. Mereka orang-orang yang dididik dibawah tekanan, baik itu tekanan dari senior, tekanan akademis, tekanan sosial, sampai tekanan ekonomi.
Tekanan dari senior berupa perpeloncoan yang mengakibatkan tingginya solidaritas antar sesama mereka, tanpa memandang apa kedudukan sosial orang tua ataupun embel-embel lainnya. Tekanan akademis dengan ekstrimnya cara perkuliahan dibandingkan sekolah menengah. Saat tugas-tugas kuliah yang banyak, penuh penalaran dan pendalaman materi dalam mengerjakannya, serta cara dosen menerangkan materi yang tidak senyaman guru di SMA. Tekanan sosial, saat mereka dituntut menjadi agent of change, control sosial, dan iron stock. Mereka dipercaya sebagai golongan orang-orang yang akan mengubah nasib rakyat, dan orang-orang yang mengkritisi ketimpangan dalam pemerintahan. Sedangkan tekanan di bidang ekonomi yang hampir dirasakan setiap mahasiswa, apalagi yang berasal dari luar daerah dalam mengatur keuangan perbulan sendiri. Mereka dituntut untuk mandiri karena berada jauh dari orang tua. Mahasiswa akan berpikir tentang cita-cita saat mereka merasakan susahnya menjadi rakyat biasa.
Semua keadaan-keadaan dalam masa perkuliahan tersebut berangsur-angsur membuat mahasiswa yang awalnya remaja menjadi seorang manusia yang bisa berpikir dewasa. Mereka menjadi dewasa karena keadaan ini. Dengan kedewasaan tersebut, timbullah idealisme, sebuah prinsip yang dianggap ideal bagi keadaannya. Idealisme mahasiswa menuntut tidak adanya aparat-aparat kotor dan curang. Membenci birokrasi yang hanya menghambur-hamburkan uang rakyat. Mengecam ketimpangan-ketimpangan sosial yang mereka rasakan.
Ironisnya, para pejabat-pejabat kotor, yang korupsi di Dewan Perwakilan Rakyat, ataupun lembaga-lembaga lainnya juga berasal dari golongan mahasiswa dulunya. Kebanyakan dari mereka merupakan aktivis-aktivis yang garang menentang birokrasi, menyuarakan kepentingan rakyat, seperti idealisme mahasiswa yang kita kenal sekarang. Namun, apa yang terjadi saat mereka memasuki dunia setelah usai perkuliahan?
Orang-orang vokal di ordenya dapat duduk di Dewan Perwakilan Rakyat, bahkan menjadi menteri, dan jabatan-jabatan birokratis lainnya. Terpengaruh oleh keadaan lagi, mereka menafikan idealisme mereka dulu saat duduk di bangku perkuliahan. Kenapa ini bisa terjadi? Jika diamati, ini berbasis paradigma pendidikan. Dalam Perguruan Tinggi yang notabene lembaga original pendidikan, hanya ada kata benar dan salah. Secara akademis, pendidikan (sains) itu murni. Jika tidak benar, maka ia salah. Lalu bagaimana dengan keadaan birokrasi?
Disana bukan lagi suasana akademis. Paradigma yang dikenal pun berubah dari benar atau salah menjadi bisa atau tidak bisa, mungkin atau tidak mungkin. Saat berkata bisa, maka kebenarannya tidak tunggal lagi. Hal yang kurang bisa pun dapat dibisakan, begitu juga dengan tidak bisa. Karena bisa sangat relatif. Itu bisa-bisa saja.
Keadaan pun berpengaruh. Saat lepas dari bangku perkuliahan yang penuh tekanan dan mendapat kedudukan nyaman di bangku birokrasi. Mereka lupa karena terbawa keadaan. Untuk apa lagi idealisme saat kehidupan telah menyenangkan? Faktanya, hampir semua yang telah berada di posisi aman akan lupa pada idealisme mahasiswanya dulu. Manusia seringkali bertindak dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Yaitu dalam konteks apa dan dimana ia berada, maka ia akan beridealisme sesuai dengan posisinya tersebut.
Jean Paul Sartre, tokoh eksistensialisme mengatakan bahwa manusia tidak lain adalah rencananya sendiri, ia berbuat hannya sejauh mana ia memenuhi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, ia tidak lain adalah kumpulan dari tindakan-tindakannya sendiri, yaitu hidupnya. Begitu pula dengan idealisme yang diidengungkan mahasiswa. Bagi Jean, itu tidak lain karena keadaan yang menuntut mahasiswa dengan segala kebutuhan mahasiswa. Maka bukan tidak mungkin saat keadaan berubah, yaitu saat ia bukan lagi mahasiswa, ia kehilangan idealisme mahasiswanya yang dulu.
Lalu, bagaimana seharusnya seorang mahasiswa itu? Disini bukan berarti menghentikan pergerakan mahasiswa karena hanya bersifat absurd. Penulis membayangkan seandainya mahasiswa memilih sikap kooperatif dengan para birokrat. Dimana, para birokrat yang dulunya juga merupakan mahasiswa juga. Jadi disini masih akan terbawa iklim mahasiswa dalam lingkungan birokrasi, dan mahasiswa juga bisa mengenal lingkungan birokrasi dari dini, sebelum benar-benar memasukinya.
Mahasiswa dan birokrat tergabung dalam sebuah lembaga yang nantinya mahasiswa bisa mengkritisi sendiri kebijakan birokrasi karena telah masuk dalam dunia itu. Mahasiswa bisa tahu lebih banyak hal tentang birokrasi itu sendiri dan dalam pelaksanaannya, namun masih dalam semangat kemahasiswaannya. Dari lembaga itu, mahasiswa secara bebas dapat berdiskusi dengan pihak birokrat, dan transparansi sebagai prinsip demokrasi negara kita akan berjalan. Ini akan mengakibatkan hubungan harmonis antara pihak pembuat kebijakan (birokrat) dengan agen kontrol sosial masyarakat (mahasiswa). Tanpa aksi-aksi anarkis yang disepelekan dan tidak dianggap penting oleh beberapa golongan. Penulis Mahasiswa Matematika BP 07 UNP
|