|
Oleh Rara Sandi Winanda
Inlanders adalah panggilan yang dimunculkan oleh kolonial belanda untuk mengejek kebodohan dan keterbelakangan warga Hindia Belanda jajahannya. Namun saat ini mental inlanders kembali dibicarakan sebagai mental bangsa kita. Meskipun kenyataannya kita telah lepas dari penjajahan. Siapa pun akan bertanya-tanya, ”Kenapa dinamakan mental jajahan? Kita kan sudah merdeka!” Bantahan itu rasional, meski perlu sedikit klarifikasi.
Pernahkah kita menyadari bahwa ungkapan tersebut menggambarkan penyakit kronis yang mendera bangsa ini: mental inlander complex. Gejala-gejalanya bisa dideteksi dengan mudah: perasaan rendah diri, takut bersaing, kurang percaya diri, dan silau terhadap kesuksesan orang (bangsa) lain. Walau terus terpelihara secara kolektif dan tidak pernah kita sadari pengaruhnya, penyakit ini mendorong pada sikap mental yang destruktif: malas, boros, korup, dan tidak disiplin. Pada mekanisme pasar. Kapitalisme media membentuk cara pandang kita terhadap dunia; kesadaran kita terhadap masalah kelas, identitas, citra diri, hingga nilai-nilai hidup. Masyarakat kita beranggapan; produk yang berasal dari Barat-Hollywood, Paris, atau Swiss menempati kelas terbaik dalam paradigma masyarakat. Sedangkan produk lokal dianggap tidak bergengsi. Vissia, seorang Pengamat Ekonomi mengatakan, politik budaya beralih rupa menjadi kapitalisme dan feodalisme global dan kita menjadi obyek. Banyak kaum perempuan yang tanpa sadar terjebak pada kepentingan dan kompensasi sesaat, seperti kompensasi atas kesadaran warna kulit. Hasil penelitian Vissia memperlihatkan tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk pemutih kulit di Indonesia meningkat secara signifikan. Jenis produk pemutih pun bertambah hingga mencapai 47 jenis.
Kebiasaan kita mengagungkan orang Barat ternyata tidak saja menjadi mental di kalangan orang biasa atau pejabat. Namun, sikap dan budaya silau pada Barat ini juga melanda para akademisi atau ilmuwan. Hingga saat ini, dunia perguruan tinggi kita masih suntuk menjadi konsumen ilmu-ilmu dari Barat. Banyak dari kita bangga mengutip atau menjadikan karya orang asing sebagai referensidalam paper atau tulisan kita. Kalaulah memang itu karya yang hebat di bidangnya, tentu bukan masalah. Namun, yang menjadi masalah adalah jika pengutipan itu punya maksud lain misalnya untuk meningkatkan prestise. Ini yang dimaksud dengan mental indlander para ilmuwan.
Tak hanya itu, untuk urusan ilmu sosial politik yang terjadi di negeri sendiri! Sungguh ironis, untuk mengupas masalah-masalah sosial, politik, dan budaya di negeri ini, banyak ilmuwan kita yang bergantung pada ilmuwan sosial asing. Nama-nama seperti Clifford Geertz, Daniel S. Lev, William Liddle, Richard Robinson, Herbert Feith, J.A.C. Macky, dan Ben Anderson adalah sederet ilmuwan sosial yang mendalami masalah-masalah dalam negeri kita.
Sekarang, sudah saatnya pemerintah mempercayakan bangsa ini dikelola oleh putra bangsa. Dan masyarakat juga harus percaya pada kemampuan anak negeri, maupun produk-produk dalam negeri yang dihasilkan. Karena, jika kita masih berpandangan layaknya kaum jajahan, sudah pasti kita tidak akan pernah merdeka dalam arti sesungguhnya.
Kita perlu kerja keras agar tidak selalu bergantung pada Barat. Kita bisa meniru Iran, China atau Venezuela. Mereka semua berusaha menghilangkan hegemoni Barat dengan cara yang berbeda. Iran bekerja sambil terus melakukan agitasi lewat kata-kata dan sedikit gangguan bagi kepentingan AS. China diam-diam bekerja dan mulai menujukkan hasilnya untuk berkompetisi dengan negara Barat. Venezuela seperti Iran, melakukan tindakan yang mengancam kepentingan AS sambil tetap melakukan usaha-usaha menyejahterakan rakyatnya. |