Cerpen edisi 151

Palali

Oleh Yulia Nengsih

 

Genap sudah satu tahun ayah meninggalkan rumah ini. Semenjak perceraiannya dengan ibu, tak sekali pun ayah menyempatkan diri untuk singgah, meski barang sebentar, sekedar memberi tanda pada kami bahwa kami masih punya ayah. Jangankan berkirim kabar, di mana ia kini pun kami tak tahu. Perpisahan dengan ibu mengartikan perpisahan kami dengan ayah juga. Meski begitu halnya, setetes rindu masih kami sisakan buat ayah. Kami masih selalu membingkai harapan akan kedatangan ayah di rumah ini. Ayah senantiasa bercerita tentang banyak hal, mengantarkan aku ke dalam tidur yang nyenyak. Giginya yang tertata rapi sampai kapan pun tak dapat hilang dari ingatan ku.


Umur ku sudah cukup untuk menimbang yang baik dan buruk. Tidaklah kutaruh kebencian padanya perihal perceraiannya dengan ibu. Jangankan dia sebagai seorang lelaki, aku sajalah, kalau bukan karena posisiku sebagai anak mungkin takkan ku injakkan lagi kakiku di rumah itu. Mendengar suara ibu diikuti kata-katanya yang sering menusuk siapa yang akan betah berlama-lama di tempat ini. Setiap hari mengomel, seolah tak pernah habisnya apa yang akan diucapkan. Sudah menjadi kecanduan baginya, mungkin sehari saja ia tak berceloteh akan ada satu penyakit hinggap di tubuhnya, entah apalah itu.
  

          “Kemana bapakmu ya, Pik?” Begitulah tanya ibu tiap kali ayah tak pulang.


            “Mungkin ia sedang bermain domino di kedai Mak Sati, Bu!” Jawabku sekenanya meski dalam hati aku mengutuk kalau ibu itu munafik. Sehari saja ayah tak pulang cando anak ayam kehilangan induaknyo. Tanya sana, tanya sini. Tapi cobalah kalau ayah sudah pulang, penyakitnya kambuh lagi. Basabuah raso ka muntah bacarai raso ka mati.  


"Masih kau datangi juga rumah si Marni tu ha? Kemana saja kau semalaman kalau bukan ke rumah perempuan gatal itu?”
Kulihat wajah diam ayah. Tak mau ia menjawab ibu yang seperti itu. Walau aku tahu ayah tak menyukai duduk berlama-lama, duduk di kedai. Semalam ayah pasti menginap di dangau dekat ladang yang letaknya tak jauh dari sini. Ada sekitar 2 kilo. Tapi aku enggan memberitahu ibu, biarlah ayah menikmati kesendiriannya di sana. Tapi jalan ke sana agak sulit karena harus melewati pematang-pematang sawah. Di sanalah ayah biasa menyembunyikan diri bila-bila pikiran kalutnya kumat. Kata ayah, di sawah, bila sore datang tenang jiwanya mendengar binatang-binatang kecil bersahutan bergantian dengan keteraturan, tenang. Tak seperti di rumah, yang selalu ramai oleh dendangan pilu si nenek dan kicauan padiah ibu.



Teringat si nenek, timbul tanda tanya di benakku. Apa yang menyebabkan dia seperti itu? Setiap datang waktu salat dia selalu merinai-rinai, yang semula dengan suara perlahan kemudian berangsur-angsur keras dan terakhir dia berteriak sambil menangis. Bila tengah malam, ia bicara sendiri dan kadang seolah memanggil seseorang dari kejauhan dan bila lelah ia akan tertidur sendiri. Sudah sekitar satu tahun belakangan. Sembarangan saja ia berkata-kata. Kadang bila datang tamu-tamu ayah, kami sedikit merasa malu, karena suaranya terdengar jelas sekali.




Aku takut bertanya, lagi pula tak ada tempat bertanya bagiku di rumah itu. Pernah sekali aku bertanya pada ibu tapi ia malah membentakku, “Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu, jangan kau ingin tahu pula urusan orang dewasa. Apa sekolah kau bisa menyembuhkannya!” Semenjak itu aku tak berani lagi bertanya, aku takut kalau ibu mengataiku lagi dengan yang lebih pedih dari itu. Selama yang aku tahu, apa yang terjadi sekarang adalah cerminan dari perangai kita di masa mudanya. Itu pula yang ku takutkan pada ibu, kalau nantinya ia mewarisi penyakit nenek yang seperti itu. Tapi entahlah, biarlah tanya ini ku biarkan mengendap sendiri hingga akhirnya jenuh dan tak lagi dipertanyakan. Lagi-lagi pikiran ku melayang tentang sosok ayah. Tentang ada dan tiadanya ia.
***
            “Secepatnya Ninik Mamak kami akan ke sini untuk menyelesaikan pertunangan ini”.
            “Lalu bagaimana dengan anak-anak kau yang perempuan, apa dia sudah diberitahu tentang ini?”
            “Ah, urusan anak-anak tak perlu dipikirkan. Mereka kan sudah besar, tentunya mereka tidak berpikiran anak-anak lagi. Dan saya yakin, mereka akan mengerti dan pastinya mereka juga membutuhkan sosok bapak kan? Jadi perkara anak-anak tak ada masalah”.


            “Justru itu, Ros! Justru karena anak-anak kau itu sudah besar-besar. Aku ragu mereka malah tidak menyetujui rencana ini. Mereka sudah besar mereka merasa tak membutuhkan bapak lagi. Dan aku juga bisa lihat selama ini hubungan anak-anak kau dengan laki kau, maksudku duda kau itu, tampak baik. Dan kurasa tidak mudah bagi mereka melupakannya. Satu tahun masih terlalu pagi bagi mereka tuk bisa lupa kenangan dengan bapaknya”.


            “Ah, jangan berpikir terlalu jauh begitu lah, Wan! Mereka tak seperti yang Uwan duga!”


            “Semoga saja begitu kenyataannya, Ros!” Ku sedikit merapatkan telinga ku mendengar percakapan di ruang tamu. Entah dengan siapa ibu bicara. Lelaki itu suaranya tak begitu asing di telinga ku. Tapi samar-samar aku ingat. Dan ketika ia hendak pamit pergi, tak salah lagi ia adalah Datuk Bandaro yang dua bulan lalu istrinya meninggal karena penyakit. Menurut orang kampung diguna-guna oleh orang yang menyimpan dendam keluarga.


Dasar lelaki, seakan tidak bisa saja ia baangok tanpa padusi. Belum merah kuburan istrinya sudah hendak memperistri perempuan lain pula. Tapi menurut dokter yang memeriksa, beliau terserang  penyakit lever. Tapi tak sedikit pun aku menaruh percaya dengan yang namanya penyakit yang diperlihatkan ke dukun kampung seperti itu, karena setiap kali ada yang pergi melihatkan penyakitnya ke dukun pada umumnya penyakit mereka karena diguna-guna orang lain.
Tampak olehku ibu mengantar Datuk Bandaro sampai ke jenjang rumah, tak ubahnya seperti orang yang sudah suami istri saja. Sepintas aku mendengar percakapan mereka tadi dan aku dengan beraninya bertanya pada ibu.


            “Ada urusan apa Datuk itu datang malam-malam begini ke sini Bu?”
            “Memangnya kau mau apa, ha?”
            “Bu, apa aku tidak berhak bertanya tentang segala sesuatu yang terjadi di rumah ini. Aku ini sudah besar, Bu!”
            “Kalau kau memang sudah besar, pergi ke dapur dan selesaikan pekerjaan kau.”
            “Bu, apa mau ibu yang sebenarnya. Apa ibu mau bertindak sendiri di rumah ini? Baiklah kalau begitu, mulai hari ini ibu urus saja sendiri rumah ini. Aku serahkan adik-adik pada ibu seutuhnya. Dan aku akan urus pula urusanku sendiri”.


            “Lalu kau mau apa? Mau pergi hendak menurut ayah kau pula? Silahkan pergi sana, cari bangkainya yang sudah lapuk menjadi tanah itu. Kau kumpulkan tulang-tulangnya dan habis itu kau buat kuburannya di tanah belian kau itu. Dan ratapi tiap pagi bapak kau itu. Dasar anak tak tahu untung. Terima kasih padaku karena kau sudah ku besarkan hingga seperti ini. Kalau tidak, entah sudah menjadi apalah kau sekarang”.



            Tak tahan aku mendengar sumpah-sumpah ibu yang semakin menjadi-jadi. Tak biasanya ia menyumpahiku seperti itu. Dan mengapa ia sembarangan menuduh kalau ayah sudah tak ada lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ibu dengan lantang dan gampang berkata-kata begitu? Apa benar begitu adanya kalau ayah hilang begitu saja. Aku masih berusaha mengait-ngaitkan semuanya dengan peristiwa setahun yang lalu. Saat ayah memutuskan bercerai dengan ibu. Dan penyebabnnya itulah yang sampai detik ini masih belum ku ketahui. Otakku seolah mengisyaratkan bahwa aku dalam perjalanan menuju jawaban akan sebuah ketidakpastian.



Kukemasi barang-barang ku. Ku kemasi semua yang ada di lemari. Ku lihat ibu datar-datar saja. Tak ada sedikit pun niatnya menghentikan ku. Sudah cukup bulat hati ku meninggalkan rumah ini. Inilah saatnya setelah sekian lama aku bertahan dalam kesabaran. Aku manusia. Jenuh kepunyaanku. Aku jenuh. Bosan. Kurasa bukanlah dosa bila aku harus berbuat seperti itu kepada ibu, tapi justru jika aku lebih lama lagi di rumah ini, banyak hal yang tak diinginkan yang bakal terjadi. Semalam-malamnya juga, aku harus berangkat. Aku juga tak mau nantinya kepergian ku jadi buah bibir oleh  orang sekampung.
                                                            ***
“Kau tanamkan lagi ramuan ini tepat di pintu  masuknya. Dan sekedar mengingatkan, perbaharui ini sebulan sekali”.
“Baiklah, jangan lupa sedikit lagi rencana kita akan sempurna terlaksana.”



“Oh, ya. Kau bisa pastikan tak ada bukti yang bisa membuat kita dituntut nantinya atas kematian si Thahar?”



Suuur…! Lepas semua genggamanku. Tubuhku mematung. Mataku dorman. Percakapan itu tak sengaja terdengar oleh ku. Darah  seolah beku ketika mendengar nama ayah dibawa-bawa dalam pembicaraan itu. Yang lebih mengejutkan, mereka menyebut kematian atas ayah. Ada yang tidak beres dengan kepergian ayah. Adakah ini ia, Datuk Bandaro, dalang di balik semuanya.  Dan mungkinkah ibu seperti itu karenanya. Tidak! Aku harus balik ke rumah dan tak ada namanya pernikahan di rumah itu sekarang dan selamanya. Aku muak pada lelaki yang meraja karena kelelakiannya. Atas hak apa ia berkuasa atas keluargaku. Memutar balikkan otak ibuku. Aku tak segera pindah dari tempat itu.


Kudengarkan lagi rapat-rapat pembicaraan mereka. Terlihat mereka seolah tengah mengulang-ulang sesuatu yang sudah mereka perbuat, tampak dari cara mereka berbicara sambil memain-mainkan tangan mereka. Semangat sekali mereka.
“Yang aku herankan, sebegitu manjurnya ramuan yang Mamak ramu itu. Sampai-sampai si Rosni tak mengubris sedikitpun ketika kukatakan padanya kalau suaminya sudah tak ada lagi. Dia sedikit pun tak acuh dengan berita itu.”


“Tapi menurut orang kampung, setelah kejadian itu perempuan tua di rumahnya itu berinai-rinai kecil dan kadang berteriak sekeras-kerasnya. Apa ada yang bisa memastikan kalau si nenek tua itu tak menyaksikan kejadian itu.”



“ Nah itu lah Mamak, denai juga tidak sadar kalau di sebelah dapurnya ada kamar kecil. Nah dari situ perempuan tua itu melihat dengan mata kepalanya apa yang tengah terjadi. Seketika ia langsung pingsan. Dan untunglah kabarnya si nenek sekarang dalam keadaan tak waras. Kalau tidak mampuslah hamba ini wahai Mamak Sidin.”


“Ha….ha….ha…!” Sesaat terdengar sorakan dari mereka.



Aku tak tahan lagi, udara panas sudah mulai naik ke ubun-ubun. Tapi aku harus meninggalkan tempat itu tanpa suara agar tak ketahuan. Aku kembali pulang untuk esok dengan sebuah rencana besar. Aku akan berbuat dengan keperempuananku layaknya lelaki berbuat dengan kelelakiannya.


***
Oase, 17 sept ’08

 

 Kritik Cerpen: M. Isa Gautama, M.Si

Kala Dua Aspek Menulis Fiksi Terabaikan


Pengarang cerpen Ganto kali ini, Yulia Nengsih, memiliki ide yang kuat dan kreatif dalam memilih tema yang hendak dijadikan sebagai roh cerita. Permasalahan sosiologis yang klasik, ketika persengkongkolan menjadi buah dari carut-marut nafsu sekaligus kelalaian akan tanggung jawab suami istri. Nengsih (dari segi tema) cukup berhasil menyentakkan kesadaran kita. Betapa suatu yang klasik, jamak, umum kadang malah luput dari kepedulian kita selama ini. Lebih-lebih, jika “kita” di sini bermakna seorang cerpenis yang selalu butuh tema-tema menarik serta krusial untuk dijadikan bahan cerita.


    Namun, tema hanyalah satu dari tiga aspek utama kala siapa pun menulis karya fiksi, termasuk cerpen. Dua yang lain adalah teknik penceritaan dan kemampuan berbahasa. Di dalam aspek teknik penceritaan terdapat banyak pula sub aspek di antaranya alur atau plot, penokohan, pelatuk cerita, dan ending. Sementara, kemampuan berbahasa selalu terkait dengan bagaimana si pengarang mengekspresikan ceritanya melalui keseluruhan perangkat teks, mulai dari pemilihan diksi (kosa kata), bangun kalimat yang kuat sekaligus efektif, pemilihan dan pengaturan pikiran utama tiap paragraf, deksripsi tokoh-peristiwa-dialog, pemilahan dan pengaturan kalimat konotasi maupun denotasi, dan lain sebagainya.


    Dua aspek terakhir menjadi kelemahan utama cerpen bertajuk Palali ini. Teknik penceritaan akan lebih sempurna jika Nengsih lebih sabar memainkan ritme cerita, sehingga cerita menjadi lebih terstruktur, laksana mendaki tangga satu persatu hingga ke puncak. Jujur saja, emosi Nengsih sering kali menjadi bias yang lebih banyak merusak ritme cerita. Ingat, seberapa pun realisnya sebuah ide cerita, ia tetaplah harus berjarak dengan pengarang, sehingga pengarang mampu menempatkan dirinya untuk tetap berada “di luar” cerita ketika cerita itu ditulis.


    Penokohan bermasalah karena berkaitan erat dengan kelemahan plot yang akan dibangun pengarangnya. Plot yang masih belum menemukan “ketegasannya” bertabrakan dengan keinginan Nengsih untuk membangun karakter antara si aku, Ibu dan Datuk Bandaro. Sementara karakter Ayah yang sebenarnya titik cerita ini bermula dibiarkan kabur hingga akhir cerita. Ditambah dengan kebuntuan plot yang begitu saja tiba-tiba berakhir, membuat Nengsih kurang mendapat kesempatan yang leluasa untuk mengembangkan cerita sekaligus karakter tokoh-tokoh dalam cerpennya.


    Untuk bahasa yang digunakan cerpen ini, masih belum mampu melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh bahasa lisan. Nengsih memang perlu belajar lebih giat lagi, mengingat bahasa tulisan (terlebih bahasa fiksi) memiliki sistem dan bangunan yang berbeda dengan bahasa lisan. Komunikasi yang dibangun saat kita bicara langsung dengan siapapun tentu berbeda dengan saat kita menuliskannya, apalagi jika itu sebuah cerpen. Belum lagi jika kritik diarahkan pada bangunan kalimat yang kadang belum selesai, kerap tidak sempurna  ketika dihadapkan kepada kaidah kalimat yang benar sekaligus efektif. Alhasil, meski saya tetap mengucapkan selamat, Nengsih masih perlu belajar keras untuk jadi cerpenis handal.

 
< Prev   Next >

Seputar Kampus

Jangan Berhenti Dipenonaktifan
Sejak Juni lalu, Komunitas Seni Pertunju...

Profesor UNP pun Siap Mengajar di SMA
Tahun ajaran baru ini SMA Pembangunan ak...

Tergagap di Program Mahasiswa Berprestasi
Program mahasiswa b...

Seret Musala Jadi Sekretariat
Musala yang terleta...

Timah Panas Melesat di UNP
Peristiwa peluru ny...

UNP Terbaik dalam Pembelajaran Aktif Nasional
UNP patut berbangga...

Membentengi PL dengan Berlatih
Mata kuliah Praktik...

Bersama Membangun Pendidikan yang Cerdas


Praktis...

Statistik

Counter Powered by  RedCounter











Powered by  MyPagerank.Net




















Berita Terkini