Kita adalah bangsa Indonesia yang sedang mencari jati dirinya. Bagaimanakah keberadaan kita menurut pandangan orang luar? Bagaimana pulakah perasaan kita berada di tengah masyarakat dunia? Sesekali patut juga kita pertanyakan, apakah kita sebagai bangsa Indonesia cukup PD berada di tengah-tengah berbagai bangsa di dunia? Kurang PD karena cuma baru mampu menjadi bangsa konsumen produk teknologi asing? Sudah lama kita terkenal sebagai negara pengekspor pembantu rumah tangga yang gampang dieksploitasi, tenaga kasar yang dapat diperas jiwa raganya plus perasaan terhina.
Meski sudah lebih 60 tahun merdeka, masih banyak warga bangsa ini yang belum dapat mengenyam pendidikan dengan baik, apalagi mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Oleh sebab itu, bersyukurlah orang-orang yang bernasib baik dapat menjadi mahasiswa di perguruan tinggi yang akan membuka cakrawalanya untuk menatap masa depan yang lebih cerah dan menjanjikan. Dalam catatan sejarah bangsa ini, mahasiswa adalah penentu arah perjalanan bangsa. Kita semua tahu bahwa yang berhasil menumbangkan rezim Orde Lama adalah mahasiswa (termasuk pelajar dan pemuda), demikian juga yang menumbangkan pemerintahan Orde Baru juga mahasiswa. Menyadari hal ini, banyak pihak-pihak yang mengambil manfaat dari kekuatan “parlemen jalanan” yang dilakukan mahasiswa di masa lalu, antara lain, yang terjadi di Medan baru-baru ini. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Medan menjadi ujung tobak unjuk rasa yang berakhir anarkis yang menyebabkan tewasnya ketuaDPRD Provinsi Sumatera Utara Abd. Aziz Angkat. Di beberapa daerah, pemanfaatan mahasiswa untuk tujuan-tujuan politis segelintir politisi, juga sudah sering terjadi telah menjadi mode.
Hal ini dapat membuat kepercayaan masyarakat menjadi luntur terhadap kekuatan mahasiswa. Padahal, mahasiswa yang gampang diperalat itu bukanlah mewakili semua mahasiswa Indonesia dan semua perguruan tinggi. Bukan mewakili masyarakat intelektual Indonesia. Masih banyak persoalan besar bangsa (yang bukan politis) memerlukan pemikiran mahasiswa selaku penerus kelangsungan berbangsa dan bernegara. Sebagai anak bangsa dan calon-calon intelektual yang akan menjadi pemimpin di masa depan, di masa krisis global ini mahasiswa harus mengasah kepekaannya lebih tajam terhadap masalah bangsa.
Apa misalnya? yang masih segar dalam ingatan kita adalah fenomena “dukun cilik Ponari.” Ini merupkan fenomena sosial yang menyedihkan. Sama juga halnya kasus-kasus pembagian Bantuan Tunai Langsung (BLT) yang sempat memakan korban jiwa; berebut “berkah” sekaten di Yogya dan Solo, dan banyak lagi.
Sebagai bangsa Indonesia, ternyata kita belum dapat berbangga karena sebagian besar bangsa kita masih hidup dengan cara berpikir dan bertindak irrasional dan di luar akal sehat. Sementara itu, kemajuan teknologi, terutama teknologi informasi (IT) yang begitu maju, telah digunakan oleh orang-orang yang kita sebut di atas tanpa tahu filosofinya. Oleh sebab itu, teknologi HP baru sekedar untuk penggunaan dalam artian pengguna konsumtif belaka, misalnya untuk trasfer video porno. Bagaimanakah jadinya bangsa ini jika masih hidup berkutat dengan masalah klenik, irasional, dan di luar akal sehat, sementara persaingan global semakin ketat? Tidak ada jalan lain selain mengejarnya dengan pendidikan yang baik dan benar. Bangsa Indonesia yang terpelajar haruslah sadar pendidikan. Pemerintah kita baru sadar bahwa pendidikan itu penting bagi kelanjutan kehidupan bangsa ini. Oleh sebab itu, kita semua bersyukur karena pemerintah telah bersedia menganggarkan dana pendidikan mulai tahun ini sebesar 205 dari APBN. (Harris Effendi Thahar) |