Aku tidak malu menjadi orang Indonesia… Biar orang bilang apa saja biar, biar…… Indonesia paling korup di dunia…. Indonesia Negara gagal…. Indonesia Negara lemah…
Begitulah sepenggal puisi Rosihan Anwar yang berjudul “Aku Tidak Malu Menjadi Indonesia”. Puisinya menggambarkan betapa buruknya pemerintahan di Indonesia dari masa ke masa dari satu tampuk pimpinan ke tampuk berikutnya. Puisinya ini berupa kritikan pada pemerintah. Puisi-puisinya telah banyak muncul baik di media massa nasional, puisinya yang berjudul ““Mi Ultimo Adios” (salamku yang terakhir) mendapat penghargaan dari pemerintah Fillipina. Memperingati hari pers 9 Ferbuari lalu, agaknya Rosihan Anwar yang wartawan sekaligus penulis, pendidik, dan sejarawan patut dijadikan contoh. Perjalanan karir jurnalistiknya beragam dan penuh prestasi membanggakan. Rosihan bahkan sudah menulis 21 judul buku dan ratusan artikel di hampir semua koran dan majalah di negeri ini dan di beberapa penerbitan asing.
Ia memulai karier jurnalistiknya sejak berumur 20-an sebagai reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang pada 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Selama enam tahun, sejak 1968, ia menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Bukan hanya itu, bersama Usmar Ismail, pada 1950 ia mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Dalam film pertamanya, Darah dan Doa, ia sekaligus menjadi figuran. Dilanjutkan sebagai produser film Terimalah Laguku. Sejak akhir 1981, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap menjadi kritikus film sampai sekarang
Rosihan telah hidup dalam multi zaman. Di masa perjuangan, pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukitduri, Jakarta Selatan. Kemudian di masa Presiden Soekarno koran miliknya, Pedoman pada 1961 ditutup oleh rezim saat itu. Hingga kemudian di masa peralihan pemerintah Orde Baru, Rosihan mendapat anugerah sebagai wartawan sejak sebelum Revolusi Indonesia dengan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III, bersama tokoh press Jakob Oetama.di beberapa penerbitan asing.
Lahir di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922, Rosihan belajar di sekolah rakyat (HIS) dan SMP (MULO) di Padang. Dia melanjutkan pendidikannya di AMS di Yogyakarta. Dari sana Rosihan mengikuti berbagai workshop di dalam dan di luar negeri, termasuk di Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, Amerika Serikat.
Hingga kini Rosihan tetap aktif sebagai sosok kritis dalam melihat perubahan zaman. Banyak kritik yang ditujukankepada pemerintahan. Ia telah memberikan kritik pedasnya yang membangun baik melalui tulisan maupun puisinya. Termasuk upaya tekanan yang ditujukan pada pers Nasional. Rosihan layak dianut sebagai simbol kebebasan berfikir. Dengan jiwa kritisnya dia telah memberikan sumbangan yang besar dalam dunia jurnalistik. Isra Hermanto (dari berbagai sumber)
|