Orang bijak mengatakan bahwa kegagalan adalah suskses yang tertunda. Artinya, masih ada waktu untuk mengejar sesuatu yang hendak dicapai. Menunda-nunda suatu kegiatan, sengaja atau tidak sengaja merupakan hal yang biasa. Akan tetapi, ketertundaan itu dapat berlarut-larut sehingga tidak akan pernah terlaksana sama sekali. Saat itulah sebuah kegagalan sah adanya. 
Kata orang bijak juga, sebenarnya orang yang merasa gagal itu sudah dekat ke pintu sukses. Hanya saja, ibarat orang mendayung, pantai yang hendak dituju sudah tampak, tapi sudah merasa enggan mendayung lagi. Maka sia-sialah apa yang telah dimulai (mendayung) selama ini. Padahal, pepatah mengatakan, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Dunia mahasiswa merupakan pergulatan gagal dan sukses. Ada beberapa orang “mahligai” alias mahasiswa paling gaek yang sudah tujuh tahun menjadi mahasiswa datang kepada saya dalam tahun-tahun terakhir. Mereka tampak putus asa ketika ditanyakan kemajuan studinya. Ada yang berkata, “Ijazah sarjana tidak selalu menjadi jaminan hidup”, untuk membenarkan “kegagalannya”. Menurut pandangan saya, calon-calon mahasiswa drop out ini tidak bodoh, justru cara bicaranya cerdas. Barangkali yang tidak dimilikinya selama ini adalah ketekunan.
Tidak bodoh dan tekun adalah kunci sukses. Cerdas saja tapi tidak tekun, jadilah orang gagal. Sebaliknya, tekun saja tapi tidak cerdas, jadilah orang rajin tapi tak pernah sukses. Sejarah hidup orang-orang sekses tidaklah dimulai dari kemudahan-kemudahan nasib, tapi dimulai dari tekad untuk meraih sukses yang tahan banting, tekun, dan berjihad. Belajarlah dari sejarah untuk memandang masa depan. Nasib baik tak mungkin hanya datang sebagai takdir. Fasilitas berlimpah dan doa siang-malam tak cukup untuk menggapai sukses kalau tak punya usaha, strategi, ketahanan fisik dan mental, serta pergaulan antar sesama yang harmonis.
Zaman sekarang tak lagi sekedar “lepas makan”. Agama kita justru mengajarkan capaian prestasi dunia yang tinggi untuk mencapai status di akhirat yang tinggi pula. Oleh sebab itu, jihad fi sabilillah itu sebenarnya adalah berjuang untukmenjadi manusia sukses, bermartabat, dan manusiawi. Menjadi sukses dalam artian bidang masing-masing, apa pun bidangnya, jika mencapai suatu prestasi yang diakui dan berguna bagi kemaslahatan hidup orang banyak.
Kalau saja kita (mahasiswa) semua berpikir bahwa apa pun jurusannya adalah unggul, maka mengapa tidak bertekad menjadi the best? Kalau saja kita (mahasiswa) semua mau memikirkan bahwa dua puluh tahun yang akan datang, Indonesia merupakan negara bangsa yang kuat, disegani bangsa lain, dan tetu saja tidak miskin, kuncinya terletak di tangan kita semua, generasi yang telah menikmati hidup di alam demokrasi. Demokrasi artinya bukan anarkis bukan?
Salah satu ciri orang sukses adalah tidak pernah merasa benar-benar sukses. Hal itu mungkin disebabkan karena potensi manusia sebenarnya sangat luar biasa karena Tuhan menunjuk manusia menjadi khalifah di muka bumi. Melalui bangku kuliah di perguruan tinggi hingga menamatkan sarjana, pascasarjana dan doktor, barulah sedikit potensinya tergarap. Oleh sebab itu, untuk menjadi orang sukses haruslah berpegang pada life long education. Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat. Ya kan? (Harris Effendi Thahar)
|